Uncategorized

Menjadi orang Bermental Kaya

Setiap akhir pekan, di kompleks rumah saya selalu didatangi oleh banyak peminta-minta. Lucunya, peminta-minta ini sama setiap pekannya dan ada banyak. Udah gitu, yang lebih lucu lagi peminta-minta ini sering sekali nawar terhadap uang yang diberikan. Kadang datang dengan dua atau tiga orang dan meminta diberi kelipatan sesuai dengan orangnya. Luar biasa kan?

Waktu itu pertanyaan yang muncul di kepala saya adalah, sampai kapan mereka seperti itu? Sampai kapan mereka akan terus meminta-minta yang bahkan sudah dijadikan pekerjaan sehari-hari? Badan mereka sehat-sehat dan bugar. Saya bisa menyebutkan banyak contoh orang yang tidak seberuntung mereka namun menjadi orang-orang yang diperhitungkan. Bukankah lebih baik menjadi orang dengan tangan di atas (memberi) daripada tangan dibawah (menerima)? Bukankah kita lebih baik menjadi orang bermental kaya dibanding orang bermental miskin?

Sadar atau tidak, ternyata mental miskin dan meminta-minta seperti itu tidak hanya ada pada diri orang-orang yang memang kekurangan. Bahkan di diri mereka yang serba kecukupan pun mental miskin seperti itu ada. Dialah orang-orang yang diberi kecukupan namun tidak mau berbagi. Dialah yang diberikan kecerdasan namun menyembunyikan. Dialah yang diberikan kelebihan relasi namun tidak mau memperkenalkan. Alasannya sederhana, takut apa yang diberikannya berkurang. Takut menjadi miskin, takut menjadi tersaingi.

Sudah banyak kisah-kisah berhikmah yang menceritakan kejadian orang kaya menjadi benar-benar miskin hanya karena enggan berbagi. Sudah banyak kejadian orang-orang pintar yang dikucilkan hanya karena dia tidak mau mengajarkan. Mental-mental seperti inilah yang selalu mengharapkan untuk diberi. Mental-mental seperti inilah yang selalu berharap untuk dilayani.

Banyak orang tua yang mengajarkan anak-anaknya untuk berbagi jika sudah menjadi orang hebat. Banyak orang tua melarang anak untuk mentraktir teman hanya karena belum bisa mencari uang. Intinya memang sejak awal kita di arahkan menjadi seorang dermawan jika memang sudah benar-benar sangat kaya sehingga apa yang kita punya relatif tidak berkurang.

Namun jika memang kita bisa berbuat baik sekarang juga, kenapa tidak? Jika memang kita bisa memberi dan berbagi sekarang juga, laksanakan segera. Berbagi tidak harus melulu dengan uang. Bahkan senyum tulus kepada tetangga Anda pun sudah merupakan berbagi kebaikan. Jika memang ada rezeki, sedekahkan. Jika memang ada ilmu, berbagilah. Sesungguhnya saat kita berbagi kebaikan kepada orang lain, justru kita yang berbuat kebaikan kepada diri kita sendiri. Itulah orang yang bermental kaya. Walaupun memang belum berlimpah secara nyata, namun orang bermental kaya selalu merasa bahwa dirinya selalu diberi kelimpahan.

Kisah menarik langsung datang dari komitmen saya untuk menulis setiap hari di blog ini. Blog ini sebenarnya salah satu cara saya untuk bisa berbagi pikiran, ide, dan hal-hal yang saya miliki. Ternyata dampaknya benar-benar luar biasa. Dari sebuah blog yang desainnya tidak seberapa ini, saya memiliki banyak teman, ada penerbit buku yang mengontak saya untuk kerjasama, bahkan datang banyak tawaran memberikan workshop dan seminar menulis atau kewirausahaan. Dulu hal ini benar-benar tidak terpikirkan, karena saya hanya memiliki niat untuk berbagi saja. Walaupun tidak seberapa banyak yang saya punya.

Jika kita bisa menjadi orang yang bermental kaya, mengapa memilih untuk menjadi orang bermental miskin?

Untuk mendapatkan inspirasi harian langsung ke email Anda, segera berlangganan tulisan blog ini dan follow Twitter saya di @ArryRahmawan.

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Tinggalkan Komentar