Entrepreneurship Toolbox Kelas Studentpreneur

Menyeleksi Startup Teknologi Potensial Menggunakan Investment Readiness Level (IRL) Canvas

Written by Arry Rahmawan

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana caranya menyeleksi startup teknologi yang prospektif untuk didanai.

Sejak tahun 2016, saya aktif terlibat dalam mengembangkan Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia. Salah satu yang paling sering saya lakukan pada saat itu adalah membangun standar penilaian untuk menyeleksi mana startup potensial dari sivitas akademika UI yang siap dibina dan dibiayai lebih lanjut untuk berkembang.

Startup – startup yang potensial ini nantinya akan dibina dan dipersiapkan untuk mengajukan pendanaan ke program di bawah binaan Kementerian Riset dan Teknologi serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia. Nah, yang seru itu adalah ketika saya beserta para penilai lain saling beradu gagasan untuk menentukan mana startup yang memang sudah siap dan mana yang belum.

Untuk memudahkan komunikasi awal, saya dan tim penilai pada waktu itu menggunakan tools yang dinamakan investment readiness level canvas (IRLC). IRLC ini merupakan sebuah kanvas yang dapat menggambarkan level kesiapan startup untuk dikembangkan lebih lanjut, atau didanai.

Investment Readiness Level Canvas adalah kanvas yang dikembangkan dari gagasan Steve Blank untuk menilai secara objektif progress yang sudah dilalui oleh startup. Berikut ini adalah gambaran dari Investment Readiness Level Canvas,

Gambaran umum dari investment readiness level canvas

Sesuai dengan gambar di atas, investment readiness level terbagi menjadi 9 tingkat dari skala 1-9. Semakin tinggi skalanya, maka startup tersebut semakin siap untuk didanai.

Apa yang membedakan startup level 1 – 9? Berikut ini adalah penjelasan singkatnya:

  1. Startup Level 1: Startup mampu menggambarkan model bisnis nya secara jelas (melalui Business Model Canvas, salah satunya) dan secara logis berpotensi menguntungkan (asumsi yang diberikan berbasis pada data yang kuat), di mana value proposition yang ditawarkan sesuai dengan apa yang dibutuhkan konsumen.
  2. Startup Level 2: Startup mampu menjelaskan keunggulan dibandingkan kompetitor dan meyakinkan bahwa produk atau jasa yang dimiliki susah ditiru dengan startup sejenis yang sudah ada.
  3. Startup Level 3: Startup sudah melakukan validasi gagasan langsung dengan berinteraksi kepada konsumen melalui wawancara atau observasi langsung ke lapangan.
  4. Startup Level 4: Startup sudah membuat rancangan prototipe dengan fitur dasar (low-fidelity minimum viable product) untuk dites kepada calon konsumen
  5. Startup Level 5: Startup sudah melakukan eksperimen terhadap prototipe untuk melihat product/market fit. Salah satu aspek yang dilihat di sini adalah apakah jumlah pengguna yang membutuhkan produk/jasa ini cukup banyak? Apabila terlalu sedikit, maka perlu dilakukan iterasi.
  6. Startup Level 6: Startup sudah melakukan validasi model pendapatan. Pada level ini, startup sudah dapat menunjukkan bahwa pengguna layanan mereka cukup banyak dan juga bersedia membayar.
  7. Startup Level 7: Startup sudah melakukan penyempurnaan terhadap prototipe dan sudah memiliki spesifikasi teknis untuk peluncuran secara masal
  8. Startup Level 8: Startup sudah menunjukkan kemampuan scale up yang efisien, yaitu bertambahnya jumlah pengguna serta aktifnya pengguna dalam menggunakan layanan tanpa harus mengeluarkan biaya yang sangat besar.
  9. Startup Level 9: Startup sudah mampu melakukan scale up secara maksimal dan memberikan neraca keuntungan yang positif secara berkelanjutan.

Dalam praktiknya, inkubator bisnis umumnya membagi beberapa skema bantuan pendanaan sesuai dengan level kesiapan investasinya.

Katgeori A (calon pengusaha startup) adalah yang umumnya terletak pada level 3, di mana pendanaan diberikan untuk menuju level 4 dan seterusnya.

Kategori B (pengusaha startup pemula) adalah pengusaha yang terletak pada level 6, di mana pendanaan diberikan untuk menuju level 7 dan seterusnya).

Kategori C (pengusaha startup berbasis teknologi) adalah pengusaha yang terletak di level 8, di mana pendanaan diberikan untuk menuju ke level 9).

Contoh kasus pemanfaatan IRLC

Penggunaan IRLC memang sangat cocok dari sisi mereka yang menyaring startup mana yang akan didanai. Para pengguna IRLC ini memang umumnya mereka yang bekerja di inkubator bisnis, venture capital, atau investor yang sedang menarget startup untuk disuntik dana.

Sebagai contoh, IRLC ini pernah digunakan ketika saya dan tim penilai harus menyeleksi startup untuk didanai.

Pada waktu itu posisinya ada 2 startup yang menurut kami sama – sama bagus.

Startup pertama bernama GetJob.id (bukan nama sebenarnya), yaitu startup yang menawarkan gagasan platform online yang bisa menghubungkan perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan dengan para pencari kerja. Cara kerjanya adalah, para pencari kerja mendaftar di website, mengisi data diri, CV, dan lain sebagainya. Kemudian perusahaan di sisi lain juga mendaftar sebagai employer dan mengisi kriteria tenaga kerja yang sedang diperlukan. Nah, konsep dari getjob.id ini nanti mereka akan menggunakan algoritma artifical intelligence untuk mencarikan kandidat yang paling sesuai dengan kebutuhan employer ini.

Startup kedua bernama Warungku.id (bukan nama sebenarnya), yaitu startup yang menawarkan platform online yang menghubungkan warung – warung kelontong di perumahan dan ojek pangkalan di perumahan tersebut, sehingga jika ada order dari warga perumahan tersebut akan langsung diantar oleh para ojek pangkalan ini. Konsepnya mirip gojek, namun mencoba memberdayakan warung – warung lokal dan ojek pangkalan di perumahan – perumahan padat di Indonesia.

Secara umum, kedua konsep startup ini sama – sama menarik perhatian. Keduanya terlihat potensial (setidaknya pada saat itu) untuk diberikan pendanaan agar bisa tumbuh menjadi startup yang lebih baik. Namun jika disuruh memilih salah satu, mana yang kami pilih?

Di sinilah kemudian kami menggunakan IRLC ini. Menggunakan level yang sudah dijelaskan di atas, kami pun kemudian memberi penilaian terhadap kedua startup tersebut.

Pada waktu itu Warungku.id memiliki pertumbuhan user yang lebih lambat dibandingkan dengan GetJob.id. Sehingga warung.id mendapatkan nilai di Level 4, sementara GetJob.id sudah menunjukkan jumlah pengguna yang impresif pertumbuhannya dan mendapatkan nilai di Level 5.

Berdasarkan hasil penilaian, maka kanvasnya akan jadi seperti ini,

Contoh pengisian investment readiness level canvas

Walaupun dari cerita saya di atas saya hanya menggambarkan dua macam Startup, di beberapa kesempatan saya suka menggunakan kanvas ini ketika menyeleksi belasan bahkan puluhan startup dan IRLC ini sangat membantu saya dan tim dalam membangun kesepahaman tentang mana startup yang akan didanai dan tidak.

Demikian sedikit sharing saya tentang IRLC yang semoga dapat bermanfaat. Pemanfaatan IRLC juga sering saya gunakan untuk menyeleksi ide bisnis potensial sebagai basis penilaian UAS dari kelas pengantar kewirausahaan teknologi yang saya ampu.

Bagi Anda yang ingin mengundang saya sebagai instruktur untuk melakukan inovasi model bisnis dengan menggunakan pendekatan visual model thinking ini, silakan hubungi via WhatsApp 0856 4087 9848 (Melinda) atau email langsung ke arry.rahmawan@gmail.com.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di pembahasan business canvas series berikutnya!

Salam,
Arry Rahmawan

Untuk sahabat yang ingin mendapatkan tutorial lainnya, silakan subscribe, like dan share Channel youtube saya.

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen kewirausahaan teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia yang saat ini sedang melakukan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki semangat dan passion dalam menulis, khususnya melalui media blog. Tulisan - tulisan di blognya ssat ini mayoritas membahas tentang kehidupan seputar akademik di perguruan tinggi, pengembangan diri, serta entrepreneurship.

Pada tahun 2013, buku Studentpreneur Guidebook yang ditulisnya menjadi national best seller dan rujukan pengajaran kewirausaahaan untuk pelajar serta mahasiswa di Indonesia. Sejak tahun 2013, Arry juga aktif membantu Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia untuk menyeleksi dan membina para entrepreneur terbaik dari sivitas akademik UI. Dalam 10 tahun terakhir, Arry juga dipercaya untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan jasa konsultasi bagi kementerian, BUMN, korporasi, serta yayasan yang ingin menumbuhkan kewirausahaan dalam organisasi (corporate entrepreneurship / intrapreneurship) atau melakukan inovasi bisnis untuk bisa terus bertumbuh di era disruptif seperti saat ini.

Untuk terus mengembangkan minat keilmuannya di bidang kewirausahaan, Arry belajar dari para pakar kewirausahaan Eropa melalui Delft Centre for Entrepreneurship di Technische Universiteit Delft, Belanda sejak tahun 2019.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!