Akademik Campus Life Diary Inovasi dan Kewirausahaan Mata Ajar Mengajar Efektif PELATIHAN & SEMINAR

Pengalaman Mengampu Mata Kuliah Kewirausahaan Teknologi di Universitas Indonesia

Written by Arry Rahmawan

Di blog ini, jarang sekali saya menceritakan tentang pengalaman saya dalam membawakan mata kuliah tertentu sebagai seorang dosen. Namun, kali ini saya tertarik menulis tentang pengalaman saya membawakan mata kuliah yang bagi saya cukup spesial, yaitu mata kulah “Kewirausahaan Teknologi” untuk program sarjana S1 di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia.

Spesialnya mata kuliah ini adalah karena akhirnya setelah 4 tahun perjuangan menyusun silabus dan kurikulum sejak tahun 2015 di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis (DIIB) Universitas Indonesia, mata kuliah ini bisa dibuka untuk pertama kalinya di tahun 2019.

Menurut saya pribadi, mata kuliah kewirausahaan teknologi sudah semestinya menjadi concern bagi penyelenggara pendidikan, khususnya Teknik Industri. Dengan banyaknya hingar bingar tentang Revolusi Industri 4.0 (RI4.0), sangat miris ketika mengetahui bahwa jarang ditemukan mata kuliah yang fokus membahas pengembangan teknologi dari sisi kewirausahaan untuk para sarjana teknik. Kebanyakan saat ini mahasiswa dituntut untuk menguasai berbagai macam teori – teori keinsinyuran dan teknologi, namun minim pengetahuan dan pengalaman dalam mengembangkan inovasi teknologi bahkan hingga mengkomersialisasikannya kepada pasar secara luas.

Berdasarkan hal tersebut, pada pertengahan tahun 2018, saya memberanikan diri untuk mengajukan agar dibuka mata kuliah pilihan di departemen tempat saya mengajar, yaitu Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia. Alhamdulillah, ketika pertama kalinya mata kuliah ini dibuka, terdapat sekitar 30an mahasiswa yang mendaftar. Mata kuliah ini saya bawakan dalam rentang Bulan Februari – Juni 2019 dan pada tulisan ini saya ingin sedikit berbagi pengalaman bagaimana melakukan manajemen kelas untuk mata kuliah kewirausahaan teknologi ini. Siapa tahu bermanfaat untuk para dosen atau tenaga pengajar lainnya yang juga bersama – sama berkecimpung dalam kewirausahaan teknologi ini.

Mindset Shifting dalam Pengajaran Kewirausahaan Teknologi

Sejak awal, ketika tergabung dalam tim khusus dalam perumusan kurikulum kewirausahaan untuk tingkat universitas di Universitas Indonesia, di tim tersebut kami sepakat bahwa pengajaran kewirausahaan yang efektif adalah action-based ketimbang theory or planning-based. Hal ini sangat mudah untuk dipahami, karena memang salah satu kunci keberhasilan seorang entrepreneur adalah pada eksekusi ide – ide mereka.

Sehingga, kami di tim tersebut berkesimpulan bahwa pengajaran kewirausahaan yang sebatas pada hafalan teori atau sekedar membuat perencanaan bisnis (menitikberatkan pada analisa) belumlah memberikan pembelajaran kewirausahaan yang sebenarnya. Saya ingat betul pada waktu itu, tim terdiri dari 4 dosen (termasuk saya) dari berbagai latar belakang: Teknik, Ekonomi, Ilmu Komputer, dan Ilmu Administrasi. Kami bisa mencapai titik kesimpulan itu karena selain kami dosen, kami juga para pelaku langsung kewirausahaan.

Saya sendiri berpengalaman dalam membangun sebuah entitas bisnis pelatihan dan konsultasi belajar (CerdasMulia Institute) dan entitas konsultasi pengembangan permainan simulasi (Signifier Games). Pengalaman – pengalaman kewirausahaan tersebut sedikit banyak saya sudah pernah tuliskan dalam buku saya: Studentpreneur Guidebook. Dari pengalaman lapangan itu, saya mendapatkan kesimpulan bahwa jauh lebih banyak pengalaman yang saya dapatkan di lapangan, ketimbang yang hanya saya pelajari di kelas atau pelatihan.

Maka dari itu, saya berpesan kepada para pengajar atau pelatih kewirausahaan di manapun Anda berada: “Untuk membentuk seorang entrepreneur, maka kita perlu memperkenalkan situasi dan kondisi riil yang benar – benar dihadapi oleh seorang entrepreneur sehari – hari.” Di sinilah sebagai dosen kita perlu mengubah mindset,istilahnya adalah mindset shifting bahwa mata kuliah kewirausahaan itu adalah kesempatan di mana kita bisa membuat mahasiswa merasakan sensasi “menjadi entrepreneur” yang sebenarnya. Terlepas apakah kemudian mereka akan menjadi entrepreneur atau tidak di kemudian hari, setidaknya mereka benar – benar paham seperti apa tantangan sebenarnya yang dihadapi entrepreneur di lapangan.

Berdasarkan hal tersebut, maka saya membawakan mata kuliah ini dengan proporsi kira – kira 30% teori dan 70% praktik. Bagaimana kemudian mengaplikasikannya dalam proses belajar mengajar di kelas? Berikut ini strategi yang saya lakukan.

Silabus Mata Kuliah Kewirausahaan Teknologi Teknik Industri UI

Secara garis besar, saya membagi dua tema besar dalam pengajaran yang saya lakukan. Tema besar pertama adalah “Menemukan Ide Bisnis Teknologi Tervalidasi” dan tema besar kedua adalah “Eksekusi dan Keberlanjutan Bisnis”.

Termin 1 – Menemukan Ide Bisnis Teknologi Tervalidasi

Termin 1 ini dilakukan pada masa sebelum Ujian Tengah Semester (UTS) atau tepatnya setengah semester pertama. Pada termin 1 ini, hasil keluaran pembelajaran hanya satu, yaitu: mendapatkan ide – ide bisnis yang tervalidasi. Maksudnya tervalidasi di sini adalah ide tersebut sudah siap untuk dikomersialisasikan (memiliki risiko tertolak pasar yang minim).

Tentunya menemukan ide untuk membangun startup berbasis teknologi bisa mudah, namun melakukan validasi ini bisa menjadi sangat sulit. Sudah rahasia umum, bahwa sebagian startup teknologi gagal berkembang karena mereka membuat suatu produk atau jasa yang tidak dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga, menemukan sebuah ide bisnis teknologi yang tervalidasi ini menjadi sangat penting sebagai awal membangun bisnis teknologi yang berkelanjutan.

Silabus Termin 1 – Menemukan Ide Bisnis Teknologi yang Tervalidasi

Berhubung saya memiliki waktu yang pendek (hanya sekitar 7 pertemuan), maka saya harus merancang kurikulum yang efektif dan juga bisa dilakukan dengan cepat (sprint learning). Berikut ini sedikit gambaran umum dari setiap pertemuan yang saya lakukan bersama mahasiswa,

Pertemuan 1 – Pengantar Kewirausahaan Teknologi

Pada pertemuan ini saya lebih menjelaskan aspek “why”, mengapa mahasiswa perlu belajar kewirausahaan teknologi ini, apalagi dengan semakin terasanya era industri 4.0. Selain itu, pada pertemuan ini juga disampaikan mengenai:

  • Membangun mindset kewirausahaan teknologi
  • Perbedaan antara entrepreneurship konvensional, teknologi, dan digital
  • Konsep technology entrepreneurship, digital technology entrepreneurship, dan digital entrepreneurship.

Di kelas juga diberikan studi kasus yang diselesaikan di dalam kelas tersebut untuk pemahaman mahasiswa terhadap topik yang diberikan.

Pertemuan 2 – Pilar Dasar Kewirausahaan Teknologi

Pada pertemuan ini, mahasiswa mulai diajarkan mengenai apa saja pengetahuan terkini yang menjadi pilar penyangga utama dari kewirausahaan teknologi. Selain itu, mahasiswa dikenalkan mengenai pentingnya berempati terhadap orang lain, karena dengan empati itulah muncul inovasi dan kreasi yang memudahkan hidup orang lain.

Secara ringkas, pertemuan ini juga membahas tentang:

  • Konsep dan aplikasi dari customer discovery
  • Konsep dan aplikasi dari value creation
  • Konsep dan aplikasi dari lean startup
  • Konsep dan aplikasi dari business model
  • Praktik customer discovery dengan menggunakan empathy map canvas, untuk merasakan apa yang sedang dirasakan dan diinginkan konsumen saat ini.

Berikut ini contoh hasil pengerjaan Empathy Map Canvas dari mahasiswa,

Yolanda Natalia Tampubolon_57481225_assignsubmission_file_Tugas 2_1606828015_Yolanda Natalia

Pertemuan 3 – Penciptaan Nilai pada Perusahaan Teknologi

Pada pertemuan 3 ini, sudah terkumpul berbagai macam empathy map canvas, sebuah tools yang digunakan untuk memetakan bagaimana perasaan orang lain, untuk kemudian memunculkan inspirasi ide – ide startup.

Bagian berikutnya adalah melakukan konstruksi mental, bagaimana menciptakan nilai tambah untuk mengatasi masalah atau memberikan nilai tambah kepada orang – orang tersebut. Untuk memudahkan mahasiswa dalam merancang penciptaan nilai, maka dalam pertemuan ini membahas tentang 2 tools perencanaan model bisnis, yaitu Business Model Blocks dan Business Model Canvas.

Pertemuan 4 dan 5 – Pembuatan Minimum Viable Products (MVP)

Pada pertemuan 4 ini, mahasiswa diminta untuk membuat purwarupa yang memiliki fitur penuh dari produk atau layanan yang ingin dibuat, atau dalam dunia startup dinamakan Minimum Viable Products (MVP). MVP ini pada prinsipnya adalah sebuah purwarupa yang secara fungsi semua bisa digunakan, dan dibuat dengan biaya serendah mungkin.

Sebagai contoh, misalkan salah satu kelompok mahasiswa membuat digital startup yang mempertemukan para wisudawan yang memerlukan fotografer profesional dengan harga murah dengan menciptakan platform mobile apps. Setiap kelompok ditugaskan untuk membuat MVP dengan biaya semurah mungkin dan dengan digital platform gratis yang sudah ada.

Sebagai contoh, mahasiswa membuat dua grup WhatsApp, di mana grup 1 mengumpulkan para buyer, dan grup 2 mengumpulkan para fotografer. Buyer yang menginginkan layanan kemudian posting di grup 1 dengan format tertentu, lalu diteruskan ke grup 2 (berisi para fotografer). Kemudian grup fotografer memberikan daftar portfolio mereka untuk diteruskan ke grup 1 yang berisikan para calon buyer. Setelah itu, di grup 1 para buyer bisa menyeleksi mana portfolio fotografer yang sesuai dengan kriteria mereka. Setelah itu mahasiswa akan menjadi perantara transaksi mereka dan menjaga hingga transaksi tuntas satu sama lain. Di sinilah fitur – fitur utama dari digital platform tersebut terwakili, walaupun memang belum ada aplikasinya tapi sudah bisa menghasilkan transaksi. Inilah yang kemudian kami namakan dengan MVP.

Pembuatan MVP ini berlangsung selama 2 pekan, di mana pekan pertama mereka diminta untuk mengonsep seperti apa MVP yang dapat mereka bangun jika menggunakan beragam aplikasi gratis yang tersedia. Kemudian di pekan berikutnya, mahasiswa diberikan tantangan untuk menghasilkan minimal 10 kali transaksi riil dari MVP yang mereka bangun tersebut untuk dipresentasikan berikutnya.

Pada fase inilah mahasiswa mulai ditantang untuk menghasilkan transaksi mereka secara riil agar tercipta pengalaman lapangan langsung, tidak hanya sekedar teori di dalam kelas.

Pertemuan 6 & 7 – Pembuatan Rencana Pengembangan Bisnis

Pada pertemuan 6 kali ini, setelah mereka menghasilkan ide yang sudah bisa menghasilkan transaksi secara riil, mahasiswa diajak untuk membuat rencana pengembangan bisnis. Rencana pengembangan bisnis ini merupakan analisa lebih dalam terkait dengan pengembangan ide bisnis mereka.

Dalam rencana pengembangan bisnis, mereka diminta untuk melakukan analisa terkait dengan:

  • Potensi dan ukuran pasar yang dituju
  • Spesifikasi produk atau layanan yang mereka buat
  • Strategi untuk menduplikasi bisnis agar dapat berkembang
  • Rancangan model bisnis menggunakan business model canvas
  • Rencana kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) bisnis
  • Analisa keuangan dan proyeksi keuntungan bisnis

Analisa rencana pengembangan bisnis tersebut dibuat dalam 2 bentuk, yaitu menggunakan dokumen word dan juga powerpoint dengan bentuk yang lebih visual.

Pertemuan 8 (UTS) – Pitching Ide Bisnis Tervalidasi

Pada pertemuan 8 ini adalah UTS di mana mahasiswa akan diminta untuk pitching kepada saya sebagai dosen (dalam hal ini bertindak seolah sebagai investor). Pada tahun ajaran ini, berhubung Universitas Indonesia membuka kesempatan untuk menerima hibah kewirausahaan di UI Incubate, maka saya mendorong setiap rencana bisnis mereka dikirimkan ke UI Incubate untuk mendapatkan pendanaan awal.

Dari 6 proposal kelompok yang diajukan dari tugas mata kuliah ini, terdapat 2 proposal yang lolos seleksi administrasi untuk lanjut mengikuti seleksi wawancara atau pitchingyang sesungguhnya di hadapan para reviewer yang terdiri dari akademisi dan juga praktisi.

Di sinilah akhir dari termin pertama, di mana tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah mahasiswa mengetahui dan mempraktikkan bagaimana cara mendapatkan ide bisnis teknologi yang sudah valid dan siap untuk dikomersialisasi.

Termin 2 – Eksekusi dan Keberlanjutan Bisnis

Termin 2 dilaksanakan setelah UTS berlangsung, di mana pada termin ini mahasiswa difokuskan untuk mengeksekusi ide bisnis mereka dan dibekali dengan ilmu dan pengetahuan tentang bagaimana caranya membangun bisnis yang berkelanjutan.

Fokus keluaran pembelajaran pada termin ini adalah memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam mengeksekusi ide bisnis mereka secara langsung, dibuktikan dengan pertumbuhan atau penurunan pendapatan mereka.

Di bagian akhir, sebagai penutup mata kuliah kewirausahaan teknologi ini, mahasiswa diminta untuk membuat sebuah proyek kecil untuk melakukan launching produk atau layanan mereka ke publik. Acara launching ini merupakan bentuk tugas akhir sekaligus menandakan berakhirnya mata kuliah kewirausahaan teknologi ini.

Silabus Termin 2 – Eksekusi dan Keberlanjutan Bisnis

Pertemuan 9 – Agile Leadership

Pada bagian ini pembahasan lebih menekankan mengenai gaya kepemimpinan yang diperlukan dalam sebuah startup teknologi. Beberapa kriteria yang ditanamkan dalam pertemuan ini adalah membentuk mahasiswa menjadi pemimpin yang memiliki rasa empati tinggi terhadap permasalahan orang lain, memiliki visi dan komitmen kuat untuk menjalankan sesuatu, hingga kedisiplinan tingkat tinggi yang tidak ditemukan pada pemimpin manapun.

Pertemuan 10 – Pengenalan Alternatif Sumber Daya Modal

Pada pertemuan kali ini, mahasiswa dikenalkan dengan berbagai macam akses pendanaan dan bagaimana cara mendapatkannya. Beberapa konsep yang dijelaskan antara lain adalah bootstrap, konsep pengelolaan dana patungan (crowdsourcing), pengajuan seed funding ke inkubator bisnis, angel investor,hingga pengajua pendanaan seri A dan seri B.

Pertemuan 11 – Strategi Penjualan dan Pemasaran dalam Perusahaan Teknologi

Pada pertemuan kali ini mahasiswa diperkenalkan dengan cara penjualan dan pemasaran digital, seperti misalnya meningkatkan penjualan dengan copywriting yang efektif, membuat desain komunikasi visual yang menarik, menggunakan layanan Facebook dan Instagram Ads, memasang budget yang tepat dengan imbal hasil yang tinggi, tidak lupa mengoptimalkan Search Engine Optimization (SEO) pada website sehingga selalu ada di halaman pertama Google.

Pertemuan 12 & 13 – Manajemen Keuangan Perusahaan

Pada bagian ini, mahasiswa diperkenalkan dengan konsep laporan keuangan perusahaan (mengulang kembali dari apa yang diajarkan dalam mata kuliah akuntansi dan biaya), seperti misalnya Laporan arus kas, laporan laba rugi, dan Balance sheet. Selain itu, mahasiswa juga dikenalkan dengan rasio – rasio yang dapat digunakan untuk mengukur sehatnya laporan keuangan. Rasio – rasio tersebut antara lain adalah,

  1. Working capital ratio
  2. Debt to equity ratio
  3. Gross profit margin ratio
  4. Net profit margin ratio
  5. Accounts receivable turnover ratio
  6. Return on investment ratio
  7. Return on Equity ratio

Dan berbagai macam rasio lainnya sebagai penanda performa finansial. Pada pertemuan ini, mahasiswa juga diperkenalkan tentang bagaimana membuat model finansial sederhana untuk melakukan forecasting dan menghasilkan proyeksi keuangan selama beberapa tahun ke depan dengan menggunakan asumsi yang akurat

Pertemuan 14 – Teknik – Teknik Valuasi Perusahaan

Pada pertemuan ini, mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai macam teknik yang digunakan untuk melakukan valuasi startup. Setelah mengikuti pertemuan ini, diharapkan mereka dapat menilai sendiri kira – kira berapa value dari startup yang mereka dirikan. Teknik – teknik yang diperkenalkan dalam pertemuan ini beragam, mulai dari teknik yang konvensional hingga teknik – teknik mutakhir yang ditemukan belakangan.

Pertemuan ini juga memperkenalkan faktor – faktor apa saja yang membuat sebuah startupmemiliki nilai positif, misalnya traction atau basis pelanggan yang dimiliki, reputasi, pendapatan, potensi berkembangnya industri, dan lain sebagainya. Sementara itu, beberapa faktor negatif yang membuat penilaian startup menjadi minus antara lain adalah: kompetisi yang ketat, pasar yang jenuh, margin yang kecil, pertumbuhan pelanggan kecil, dan lain sebagainya.

Untuk mengukur valuasi sebuah startup. maka beberapa teknik yang diperkenalkan antara lain adalah:

  1. Discounted Cash Flow (DCF)
  2. Comparison Valuation Method
  3. Customer-Based Corporate Valuation Method
  4. Berkus Method
  5. Valuation by Stage
  6. The Book Value Method
  7. Venture Capital Method
  8. Cost-to-Duplicate Method
  9. First Chicago Method

Dengan mengenal teknik – teknik tersebut, diharapkan mahasiswa dapat memahami darimana didapatkan angka – angka penilaian startup yang selama ini beredar.

Pertemuan 15 – Legal dan Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual

Pada pertemuan 15 ini, mahasiswa diperkenalkan mengenai beragam legal bisnis dan perlindungan intelektual yang perlu diketahui, serta perbedaannya satu sama lain. Beberapa hal yang diperkenalkan terkait dengan legal,

  1. Akta PT/CV
  2. SIUP/TDP/NPWP/Rekening Bank
  3. Pengurusan SNI
  4. Pengurusan BPOM
  5. Pengurusan Sertifikat Halal

Sementara beberapa bentuk perlindungan intelektual tersebut antara lain adalah,

  1. Paten
  2. Hak Cipta
  3. Trade Mark / Merk Dagang
  4. Hak Desain Industri
  5. Rahasia Dagang

Pada pertemuan ini saya juga berbagi kepada mahasiswa terkait pengalaman saya mengurus legal dan perlindungan intelektual yang saya hadapi.

Pertemuan 16 (UAS) – Grand Launching Day

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa hasil akhir dari termin 2 adalah mereka memiliki pertumbuhan sales dan juga memperkenalkan kepada masyarakat luas mengenai proyek yang mereka kerjakan.

Berikut ini adalah cuplikan grand launching day sebagai bentuk penutup dan tugas akhir mereka yang dilaksanakan di auditorium Fakultas Teknik Universitas Indonesia, ruang K.301.

Apa Kata Mereka Selama Mengikuti Kelas Kewirausahaan Teknologi

Berikut ini adalah beberapa cuplikan dari kesan – pesan mahasiswa yang mengikuti kelas pilihan mata kuliah kewirausahaan teknologi ini. Satu kata: terharu.

Muhammad

Semoga bermanfaat untuk rekan sejawat yang saat ini juga sedang berupaya menumbuhkan iklim kewirausahaan di Indonesia. Jika sekiranya bermanfaat, silakan diadopsi silabus dan kurikulumnya. Jika sekiranya ada yang kurang, saya terbuka dengan berbagai saran konstruktif melalui kotak komentar di bawah.

Salam,
Arry Rahmawan

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi (Technology Entrepreneurship & Management) di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Selain menjadi dosen, Arry juga merupakan trainer Business Model Canvas dan Business Model Innovation di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis, Universitas Indonesia. Arry juga aktif membagikan ilmu dan inspirasi di berbagai kampus, perusahaan, dan juga beberapa kementerian di Indonesia tentang inovasi dan kewirausahaan teknologi.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)eng.ui.ac.id

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

4 Comments

  • Salam kreatif pak,

    Perkenalkan saya eric mahasiswa STIE Indonesia Banjarmasin. Ketika saya melihat tulisan anda sangat inspiratif sekali. Saya harap artikel ini juga dapat membantu dosen dosen saya memberikan mata kuliah yang menyenangkan seperti bapak. Walaupun background saya adalah ekonomi tetapi saya ingin sekali belajar tentang membuat inovasi itu sendiri

    Salam

    • Hai Eric,

      Terima kasih banyak ya atas kunjungannya ke Blog saya. Terima kasih juga atas apresiasinya. Aamiin.. Itu pula yang saya harapkan, semoga banyak yang bisa mengambil hikmah, pelajaran, dan memperbaiki kekurangan saya dalam mengajar. Kelak jika suatu saat Eric mengajar kewirausahaan, mudah – mudahan konsep ini bisa dipakai dan dikembangkan dengan lebih baik.

      Salam,
      Arry

  • Salam kenal Mas Arry,
    Saya Farid seorang dosen juga dari Universitas Hamzanwadi di Lombok Timur. Saya juga memberi kuliah Kewirausahaan, E-Bisnis dan Analisis Proses Bisnis,

    Menarik sekali apa yang Mas ajarkan di kelas. Sedikit banyak metoda belajarnya hampir sama dengan yang saya ajarkan di kelas saya. Saya menamakan project akhir mahasiswa saya Group Term Project.

    Semoga kapan-kapan kita bisa sharing lebih jauh tentang membangun direktorat inkubator bisnis di kampus. Kami juga punya visi yang hampir sama dengan yang dibuat di UI.

    Terima kasih

    • Salam kenal mas Farid,

      Senang sekali saya bisa berkenalan dengan sesama dosen yang menyebarkan nilai – nilai kewirausahaan di Indonesia

      Aamiin.. Semoga nanti kita bisa menjalin silaturahim secara nyata. Mohon izin saat ini saya sedang melaksanakan tugas belajar di Belanda. Semoga kapan – kapan bisa berjumpa.

      Salam,
      Arry

Leave a Reply to Eric witono X

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!