Akademik Riset

Pengalaman Tahun Pertama Saat Menjalani Studi PhD di Delft University of Technology

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya saat menyusun dan mempertahankan proposal disertasi di tahun pertama saya mengambil doktoral di Delft University of Technology. Saya membuat artikel ini karena melihat banyak sekali pembaca yang komentar dan mengirim email saat membaca tulisan saya berjudul “Langkah Awal Menyusun Proposal Disertasi.” Perlu diketahui artikel tersebut saya tulis untuk membuat pra-proposal, maksudnya untuk syarat pendaftaran S3 dan bahan diskusi awal dengan profesor (silakan baca: Strategi mendaftar S3 di luar negeri). Ketika nanti kita sudah diterima, biasanya kita akan menghabiskan satu tahun pertama untuk mendetilkan kembali pra-proposal yang sudah kita buat dan dipertahankan di depan penguji apakah proposal riset tersebut layak diselesaikan selama 2-3 tahun ke depan.

Sekilas Tentang Tahun Pertama Doktoral di TU Delft

Artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya menjalani studi doktor di Delft University of Technology, Belanda. Di TU Delft, mahasiswa doktoral tahun pertama wajib melewati Go/No Go Exam, yaitu ujian sidang proposal oleh Profesor yang sesuai bidang kita untuk menentukan apakah kita akan lanjut riset atau ‘pulang’ karena proposal tersebut tidak layak untuk dilanjutkan. Pulang yang dimaksud ini artinya memang beneran pulang kembali ke tanah air.

Sebagai mahasiswa S3 atau PhD, apa yang akan kita kerjakan sedikit berbeda dengan ketika kuliah sarjana atau master. Di pendidikan PhD (berdasarkan standar TU Delft), saya diminta untuk dapat menghasilkan ‘terobosan’ keilmuan berupa penemuan metode baru untuk pemecahan masalah di bidang keilmuan saya. Untuk menemukan ‘celah kebaruan’ ini tentu kita harus banyak membaca literatur yang akan menunjukkan apa saja metode-metode pemecahan masalah yang telah ditemukan.

Nah, rencana saya selama empat tahun ke depan untuk menemukan dan merumuskan metode ini saya tuliskan di proposal riset saya yang akan dipertahankan di Go/No Go Exam. Pada studi ini riset saya tentang pengambilan kebijakan di Indonesia untuk jaringan transportasi laut (barang) yang tahan terhadap tekanan bencana alam.

Maka dari itu, Go/No Go merupakan salah satu pertemuan yang paling krusial bagi yang ingin kuliah di TU Delft. Saya menjadi mahasiswa PhD di Faculty of Technology, Policy, and Management. Begitu saya tiba di sini, salah satu fokus saya adalah berpikir bagaimana caranya agar saya lolos dari Go/No Go ini.

Dan ternyata…. perjuangan itu tidak mudah!

Gambaran Tentang Aktivitas Mahasiswa S3 Tahun Pertama

Tahun pertama saya di TU Delft saya habiskan untuk banyak beradaptasi dan mengambil beberapa mata kuliah untuk menyusun rencana riset saya. Profesor saya sangat memahami bahwa saya belum pernah merasakan sebelumnya mengecap pendidikan di peruguruan tinggi favorit luar negeri. Maka dari itu, beliau langsung meminta saya untuk mengambil beberapa master course sambil mengerjalan proposal penelitian.

Pengalaman saya pada waktu itu adalah senang bercampur dengan kaget. Senang karena saya bisa melatih kemampuan bahasa Inggris dan ‘memanaskan’ kembali otak saya yang sudah 4 tahun tidak duduk di bangku kuliah. Kaget karena materinya sangat berat, dan tugasnya sangat banyak! Sementara itu saya diminta untuk menyelesaikan proposal saya dengan tepat waktu, di mana paling lambat adalah di Bulan ke-12 dari sejak saya resmi bergabung di TU Delft.

Sehingga di tahun pertama ini aktivitas saya adalah kuliah dan banyak membaca literatur untuk menemukan di mana celah kebaruan penelitian saya. Pagi sampai sore saya kuliah tentang discipline related, seperti misalnya ilmu transportasi; research skill, seperti misalnya bagaimana menggunakan bahasa pemrograman Python untuk mengolah data; dan transferrable skills, seperti cara berkomunikasi dan menulis Bahasa Inggris dengan efektif. Malam harinya, saya banyak membaca literatur dari jurnal – jurnal dan membuat bagan – bagain untuk menemukan celah riset yang akan saya ajukan nanti di Go/No Go Exam.

Terbuka dengan Pembimbing Jika ada Masalah

Awal – awal datang ke TU Delft saya masih menikmati proses belajar yang saya dapatkan. Namun, semakin lama saya semakin merasa deg-degan setelah 6 bulan berlalu tapi saya belum menemukan apa kebaruan yang ingin saya ajukan dalam riset ini.

Mengapa saya sulit menemukan kebaruan riset? Karena apa yang saya pikirkan dan saya pikir itu adalah ide orisinil, sudah dikerjakan orang lain! Ada mungkin 8 – 10 kali saya presentasi di depan profesor dan di saat itu pula Profesor saya selalu bisa menunjukkan bahwa rencana riset saya sudah dilakukan orang lain. Profesor saya juga seolah memberikan kesan bahwa, “tolong ya kamu banyak baca dan pahami baik – baik apa yang kamu baca.”

Di masa – masa ini, saya mengalami gejala Imposter Syndrome, yaitu gejala di mana kita merasa khawatir bahwa kita tidak bisa bekerja sesuai dengan ekspektasi pembimbing kita. Teringat dulu di awal mendaftar CV saya tertulis ‘sangat kinclong’, tapi ternyata ketika sudah bekerja ‘kita tidak sejago itu’ yang akhirnya membuat saya merasa bersalah dan jadi tidak percaya diri untuk melanjutkan riset ini.

Setelah berkonsultasi dengan istri saya, akhirnya saya memberanikan diri untuk melakukan 2 hal.

  1. Mengatakan yang sebenarnya kepada Profesor saya bahwa saya lelah setiap ide orisinal proposal saya ditolak, dengan alasan bahwa riset tersebut sudah ada
  2. Mengatakan bahwa saya mulai terjangkit Impostor Syndrome dan kepercayaan diri saya terkikis untuk menyelesaikan studi saya ini

Dua hal tersebut saya sampaikan di pertemuan pekanan yang saya lakukan bersama profesor saya. Saya sengaja tidak membawa hasil riset sama sekali, tetapi saya ingin ‘curhat’ ke profesor saya kalau saya capek dan sepertinya tidak bisa memenuhi ekspekasi profesir saya. Saya berprinsip bahwa dalam setiap meeting, apapun kondisi mental saya saat itu, maka saya tidak boleh kabur. Jika memang ada masalah, saya bilang bahwa saya sedang ada masalah. Saya tidak ingin terlihat baik – baik saja, jika memang kondisi saya pada waktu itu sedang tidak baik.

Awalnya saya khawatir, jika saya ngomong begitu bisa jadi saya ‘dipecat’ sebagai mahasiswa PhD karena dianggap tidak kompeten.

Alhamdulillah, di pertemuan berikutnya Profesor saya kemudian mengagendakan waktunya untuk ngobrol dari hati ke hati. For the first time in our meeting, we have a conversation beside our PhD Project! Di sinilah kemudian saya baru sadar bahwa ternyata Profesor saya yang latarnya sangat engineering, bisa menjadi coach psikologis dan membimbing saya untuk menemukan kembali kepercayaan diri saya. Saya bersyukur kepada Allah SWT yang telah memilihkan saya pembimbing yang pengertian dan sangat berpengalaman. Beberapa saat setelah itu, saya bertekad 6 bulan ke depan akan menyelesaikan menyelesaikan proposal saya dengan baik dan GO! Siapa sangka, ketakutan saya untuk berkata jujur ternyata berbuah manis dan menjadi titik balik saya mendapatkan kepercayaan diri saya kembali

6 Bulan Menulis Proposal

Alhamdulillah dimulai dari Maret 2020, bertepatan dengan pandemi COVID-19 yang baru mulai di Indonesia, saya mulai serius kembali untuk bisa menulis proposal dan mencari celah kontribusi penelitian saya dengan baik.

Bahkan, sebelum saya menyelesaikan proposal, saya dan profesor saya berhasil menyelesaikan satu artikel yang kami kirimkan ke konferensi internasional bereputasi dengan proceeding terindeks SCOPUS. Full article conference saya dapat dilihat dan didownload di tautan berikut ini.

Gambar 1. Satu publikasi yang bisa saya hasilkan sebelum sidang Go/No Go di TU Delft

Selang beberapa hari setelah itu, saya pun berhasil menyelesaikan proposal riset saya. Ketika saya mempresentasikan di sidang, alhamdulillah saya mendapatkan peringkat Unanimously Go, yang artinya semua komite bersepekat dan bulat bahwa saya layak mempertahankan dan menyelesaikan riset tersebut hingga tiga tahun ke depan.

Lalu bagaimana isi dari proposal tersebut? Berhubung setiap proposal riset itu akan tergantung di mana Anda mengambil PhD dan siapa pembimbing Anda, maka tidak ada standar baku proposal riset PhD yang baik itu seperti apa. Namun jika boleh berbagi, berikut ini adalah outline atau daftar isi proposal riset yang saya pertahankan di tahun pertama saya,

Gambar 2. Contoh Outline Proposal Disertasi

Kalau Anda lihat, maka ada 9 bagian dari proposal riset yang saya tulis sebanyak 43 halaman ini, antara lain:

  1. INTRODUCTION, bagian yang menjelaskan latar belakang riset dan mengapa penting
  2. CASE OVERVIEW, penjelasan singkat tentang studi kasus yang ingin diangkat
  3. LITERATURE REVIEW, penjelasan tentang sejumlah tinjauan literatur yang kita baca dan kritisi, diakhiri dengan research gap, yaitu semacam ‘lubang’ kontribusi riset yang bisa kita isi dari riset kita
  4. RESEARCH QUESTION, penjelasan tentang pertanyaan riset yang ingin djawab berdasarkan research gap.
  5. RESEARCH STRATEGY, penjelasan tentang strategi riset kita. Isinya membahas tentang filosofi riset, metodologi atau rancangan riset step-by-step, bagaimana kita mengantisipasi risiko jika riset tidak berjalan sesuai rencana, hingga rencana pengelolaan data yang kita kumpulkan nantinya (disimpan di mana, siapa yang boleh akses, dan sebagainya).
  6. PRELIMINARY RESULT, menceritakan tentang hasil riset yang sudah dihasilkan di tahun pertama (jika ada). Saya menceritakan tentang artikel yang saya submit ke conference.
  7. ORIGINALITY, penekanan tentang aspek orisinalitas penelitian kita dan bagaimana kontribusinya terhadap keilmuan.
  8. RESEARCH PLANNING, menjelaskan tentang timeline penelitian dan juga daftar rencana nama jurnal yang kita ingin submit.
  9. REFERENSI, beriskan daftar pustaka yang digunakan untuk membuat proposal.

GO di Bulan ke – 12

Alhamdulillah setelah mengalami perjalanan selama setahu, ditambah tantangan menghadapi virus COVID-19, saya dinyatakan lulus sidang Go/No Go dan secara resmi dipromosikan dari PhD Student ke PhD Candidate. Alhamdulillah saya Go! pas di bulan ke-12, di mana itu adalah bulan terakhir saya harus dinyatakan Go! untuk proposal saya. Melalui tulisan ini saya juga ingin mengatakan bahwa keberhasilan saya melibatkan suatu proses yang sangat panjang dan juga bantuan dari banyak orang. Tidak lupa saya menyebut bahwa keberhasilan saya ini juga banyak dipengaruhi dari doa orang tua, support istri dan anak, serta peran serta mentor dan kolega saya yang tidak henti-hentinya membantu saya untuk menyelesaikan tahun pertama saya dengan baik.

Semoga artikel ini sahabat yang sedang ingin melanjutkan studi S3 di luar negeri bisa mendapatkan gambaran seperti apa gambaran tahun pertamanya. Dan juga saya ingin menceritakan bahwa manfaatkanlah masa – masa PhD ini untuk betul – betul menghasilkan kontribusi keilmuan, di bidang kita. Tentu ijazah itu penting, namun juga penting jika kita bisa pulang membawa ijazah dan berkontribusi konkrit terhadap bidang keilmuan kita.

Untuk Bapak dan Ibu dosen yang sedang berjuang di tugas belajar atau yang berencana ingin tugas belajar, saya doakan semoga lancar. Utamakan kualitas dalam belajar, ketimbang bertanya, “bagaimana topik PhD yang gampang?”. Karena kita adalah guru, dan sebaik – baik guru adalah yang memang menghadapi tempaan keras dalam belajar, sehingga bisa menginspirasi murid-muridnya.

Semoga bermanfaat.

Salam,
Arry Rahmawan

Dosen, Universitas Indonesia
PhD Candidate, Delft University of Technology

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

1 Comment

  • Saya juga on progress menunggu persetujuan kantor untuk melanjutkan kuliah ke Delft.
    Dulu S2 di Delft di Fakultas TPM, sekarang juga on progress daftar ke sana lagi.
    Terima kasih atas sharing-nya pak Arry.
    Apakah memungkinkan saya minta emailnya bapak untuk bertanya2?

    Terima kasih
    Salam,
    Reni

Leave a Reply to Reni unisa Cancel reply

%d bloggers like this: