Entrepreneurship Toolbox

Pengantar LEAN CANVAS: Pengertian, Komponen, dan Manfaat LEAN CANVAS dalam Pengembangan Bisnis

Written by Arry Rahmawan

Setelah saya menuliskan cukup banyak artikel dengan Business Model Canvas (BMC), kali ini saya ingin menulis dan membagikan tentang alat bantu lainnya yang juga akan bermanfaat dalam merencanakan bisnis: LEAN CANVAS. Apa itu Lean canvas? Lean Canvas adalah alat bantu berupa blok-blok di sebuah canvas yang dirancang secara khusus untuk membantu para startup dan entrepreneur untuk menggambarkan rencana bisnis yang akan mereka buat. Bentuk Lean Canvas ini sangat mirip dengan Business Model Canvas, karena memang penciptanya, Ash Maurya, membuat alat bantu ini terinspirasi dari BMC yang diciptakan oleh Alexander Osterwalder.

LEAN CANVAS pada dasarnya ingin diciptakan untuk mengurangi ‘waste’ atau hal yang sia – sia agar para pelaku startup dapat langsung menunangkan gagasan tanpa harus menghabiskan waktu beminggu-minggu atau bahkan berbulan – bulan lamanya. Jadi memang manfaat utaman dari LEAN CANVAS ini adalah untuk mengkomunikasikan model atau ide bisnis baru dengan lebih efektif dan simpel.

Apakah dengan LEAN CANVAS ini berarti perencanaan bisnis yang tebal – tebal itu tidak diperlukan? Pada kenyataannya, perencanaan bisnis yang komprehensif itu sangat penting, apabila memang kita sudah memiliki bukti – bukti kuat bahwa bisnis kita akan berhasil sehingga memerlukan tambahan modal. Jadi memang di beberapa stage tertentu dalam pengembangan bisnis, kita harus bisa memberikan gambaran rencana bisnis dengan lebih komprehensif. Namun, kita perlu ingat apa yang dikatakan oleh Steve Blank,

Business Plan adalah sebuah dokumen yang seringkali diminta investor untuk kamu buat, namun pada kenyataannya mereka tidak memiliki cukup waktu untuk membacanya.”

Maka dari itu LEAN CANVAS sangat bermanfaat untuk ‘meringkas’ seperti apa rencana bisnis hanya dalam satu lembar kanvas saja. Saya pun mengakui, ketika saya diminta menjadi juri atau panitia seleksi proposal bisnis oleh Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis, maka saya akan langsung mencari BMC atau Lean Canvasnya terlebih dulu untuk mengetahui apa sebenarnya model bisnis yang ditawarkan oleh penulis proposal. Apabila menurut saya oke, maka saya akan membaca proposalnya dengan lebih detil. Sebaliknya, jika BMC atau Lean Canvasnya tidak jelas, maka saya akan langsung skip saja.

Baik, tidak perlu berpanjang kata lagi. Ayo kita mengenali lebih lanjut seperti apa LEAN CANVAS dan apa saja komponennya.

Pengertian LEAN CANVAS dan Komponennya

Pengertian Lean Canvas adalah alat dengan format satu halaman yang terdiri dari 9 bagian blok untuk membantu brainstorming rencana model bisnis dengan fokus pada aspek produk/jasa dan pasar nya. 9 blok tersebut dapat dilihat dalam ilustrasi Lean Canvas kosong berikut ini:

9 Blok Utama pada LEAN CANVAS

Seperti yang dapat dilihat pada gambar di atas, LEAN CANVAS memiliki 9 blok yang berfokus pada PRODUK dan MARKET. Setengah blok di bagian kiri berfokus pada PRODUK/JASA yang ditawarkan, sementara setengah blok di bagian sebelah kiri berfokus pada MARKET atau pasar yang ditarget oleh produk/jasa kita. Sekilas sangat mirip dengan BMC, namun jika diperhatikan LEAN CANVAS ini memiliki perbedaan dengan BMC karena betul – betul fokus untuk menggambarkan PRODUK-MARKET FIT untuk bisnis.

Sekarang saya ingin menjelaskan secara singkat untuk masing – masing bloknya, serta urutan cara mengisinya secara umum

1. CUSTOMER SEGMENT (CS)

Bagian customer segment pada LEAN CANVAS menjelaskan tentang siapa target konsumen dari produk/jasa kita. Sebagai contoh: anak sekolah, ibu – ibu muda yang memiliki anak balita, laki-laki mandiri berusia 25 – 30 tahun, dan lain sebagainya

2. PROBLEM (PR)

Bagian Problem pada LEAN CANVAS menjelaskan tentang apa masalah utama yang dihadapi oleh CS. Bagian ini pada umumnya berisi 1 – 3 masalah utama yang dihadapi CS yang menjadi sasaran. Pada bagian ini juga ada sub-section ‘existing alternatives’, yang menunjukkan apa saja alternatif produk/jasa yang sudah ada untuk membantu memecahkan masalah tersebut. Jika ditulis dengan baik, maka kita dapat menemukan apa masalah yang dihadapi CS dan apa saja solusi alternatif yang sudah tersedia saat ini.

3. Unique Value Proposition (UVP)

UVP terletak di bagian tengah kanvas yang menjelaskan tentang apa nilai tambah unik yang ingin kita berikan kepada CS untuk menyelesaikan PR nya. Contoh UVP, misalkan “membantu buah hati Anda belajar membaca dengan asyik dan menyenangkan dari rumah” untuk ibu-ibu muda yang memiliki anak usia dini seusia TK (CS) yang bingung bagaimana mengajarkan anak dengan efektif karena lockdown pandemi (PR). Pada UVP ada bagian “high-level concept”, yang menjelaskan secara sederhana konsep konkrit UVP yang ingin diberikan. Misalnya: AlkindiKids: Homeschooling made easy (HLC yang menggambarkan untuk membawa materi homeschooling ke rumah dan ibu-ibu langsung menjadi guru untuk anaknya).

4. SOLUTION (S)

S menjelaskan tentang solusi apa yang bisa diberikan secara konkrit agar UVP dapat diberikan untuk menyelesaikan PR dari CS. Misalnya: (1) set materi homeschooling untuk melatih anak membaca; (2) Panduan visual menjadi guru di rumah. Pastikan bagian S ini berisi fitur konkrit untuk memecahkan problem dari konsumen.

5. CHANNEL (CH)

CH menjelaskan tentang cara bagaimana UVP melalui S yang ditawarkan bisa menjangkau CS. CH ini bisa berupa bagaimana CS menemukan atau menghubungi kita (inbound) dan bagaimana kita mengirimkan S kepada CS (outbound). Beberapa contoh inbound channel, misalnya adalah social media, website. Sementara untuk contoh outbound channel antara lain kurir logistik, download di website, dan lain sebagainya.

6. REVENUE STREAMS (RS)

bagian ini menjelaskan bisnis kita mendapatkan pendapatan dari mana saja. Misalnya: dari penjualan modul, dari transaksi jasa pelatihan, dan seterusnya. RS umumnya diturunkan dari transaksi yang terjadi dari pembelian S yang sudah dirancang.

7. COST STRUCTURE (CoSt)

Kebalikan dari RS, Cost Structure menjelaskan tentang apa saja biaya – biaya yang muncul dari upaya kita menciptakan UVP dan mengirimkan S kepada CS. CoSt umumnya terdiri dari biaya modal, biaya operasional, biaya pemasaran, biaya perawatan, dan biaya pengiriman.

8. KEY METRICS (KM)

KM menjelaskan indikator kunci yang digunakan untuk menilai performa bisnis. Dalam bisnis konvensional, umumnya yang dijadikan metrics adalah jumlah pembeli baru dalam kurun waktu tertentu, jumlah pelanggan yang datang berulang, jumlah omzet / pendapatan, atau jumlah keuntungan bersih. Untuk bisnis startup digital, umumnya yang dijadikan KM adalah User Acquisition, yang menunjukkan berapa banyak pengguna yang datang melihat web atau apps kita dari berbagai macam inbound channel yang kita miliki.

9. UNFAIR ADVANTAGE (UA)

UA menjelaskan tentang keunggulan mutlak yang dimiliki produk/jasa kita. Bagian UA ini cukup sulit untuk dijawab. Namun beberapa jawaban UA yang mungkin adalah: “Dilindungi Hak Cipta/Paten, sehingga tidak mudah ditiru.”. Beberapa contoh UA lainnya adalah, “Memiliki teknologi produksi mutakhir yang tidak diketahui kompetitor.” Sehingga membuat persaingan menjadi “unfair”, dengan bisnis kita sebagai pemenangnya tentu saja.

Nah, demikianlah artikel tentang PENGANTAR LEAN CANVAS kali ini. Harapan saya semoga artikel ini bisa membantu para pelaku bisnis di Indonesia untuk menghasilkan model – model bisnis inovatif baru tanpa harus menghabiskan tenaga membuat konsep yang sangat tebal.

Bagaimana cara pengisian LEAN CANVAS ini? Nantikan tutorial pengisian LEAN CANVAS di artikel – artikel saya berikutnya. Semoga bermanfaat!

Salam,
Arry Rahmawan

Untuk sahabat yang ingin mendapatkan tutorial lainnya, silakan subscribe, like dan share Channel youtube saya.

Bagi yang ingin berinteraksi dan mendapatkan update tentang aktivitas saya, silakan follow akun Instagram saya di @ArryRahmawan

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen kewirausahaan teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia yang saat ini sedang melakukan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki semangat dan passion dalam menulis, khususnya melalui media blog. Tulisan - tulisan di blognya ssat ini mayoritas membahas tentang kehidupan seputar akademik di perguruan tinggi, pengembangan diri, serta entrepreneurship.

Pada tahun 2013, buku Studentpreneur Guidebook yang ditulisnya menjadi national best seller dan rujukan pengajaran kewirausaahaan untuk pelajar serta mahasiswa di Indonesia. Sejak tahun 2013, Arry juga aktif membantu Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia untuk menyeleksi dan membina para entrepreneur terbaik dari sivitas akademik UI. Dalam 10 tahun terakhir, Arry juga dipercaya untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan jasa konsultasi bagi kementerian, BUMN, korporasi, serta yayasan yang ingin menumbuhkan kewirausahaan dalam organisasi (corporate entrepreneurship / intrapreneurship) atau melakukan inovasi bisnis untuk bisa terus bertumbuh di era disruptif seperti saat ini.

Untuk terus mengembangkan minat keilmuannya di bidang kewirausahaan, Arry belajar dari para pakar kewirausahaan Eropa melalui Delft Centre for Entrepreneurship di Technische Universiteit Delft, Belanda sejak tahun 2019.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!