Tips Akademik

Peran Pemuda dalam Sektor Pendidikan Indonesia (Writing Challenge #27)

Written by Arry Rahmawan

Pada tanggal 30 Oktober 2015 kemarin, alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk memberikan inspirasi pada seminar nasional sumpah pemuda 2015 yang dihadiri oleh 450 pemuda dari seluruh Indonesia. Seminar ini terlaksana dengan kerjasama antara Universitas Gunadarma dengan CerdasMulia Institute. Pada waktu saya menerima surat permohonan menjadi narasumber, saya mendapatkan sebuah topik tentang “Peran Pemuda dalam Sektor Pendidikan Indonesia.”

Wow, sebuah topik yang menurut saya BERAT!

Namun, dalam seminar nasional tersebut, saya lebih banyak memberikan inspirasi kepada para peserta bahwa sesungguhnya peran pemuda itu sangat penting dan strategis untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Apa saja yang saya sampaikan dalam seminar nasional sumpah pemuda kali ini? Berikut ini adalah cuplikan materi yang saya bawakan.

Berapa Kalikah Kamu Memperingati Hari Sumpah Pemuda?

Pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan pembuka yang saya ajukan kepada para peserta. Banyak dari mereka yang menjawab sudah mengalami ‘belasan kali’ memperingati hari sumpah pemuda di tanggal 28 Oktober. Namun, dari sekian banyaknya peristiwa sumpah pemuda yang kita alami, mana yang mengubah atau menginspirasi hidup kita?

Ternyata, sedikit sekali peserta yang mendapatkan inspirasi dari hari – hari sumpah pemuda yang mereka lakukan. Ini juga menjadi hikmah bagi saya pribadi : jangan – jangan, selama ini kita memperingati hari sumpah pemuda hanya sebagai sebuah ritual dan formalitas belaka?

Maka dari itu, sebagai pembukaan saya coba mengajak para peserta untuk menonton sebuah film perjuangan yang ‘membukakan mata dan hati’ betapa kita perlu lebih dalam memaknai sumpah pemuda. Berikut ini adalah film yang saya anjurkan untuk kamu tonton. Cobalah menonton film ini dengan mata dan hati. 🙂

Sumpah Pemuda Perlu Memiliki Tujuan yang Jelas – MERDEKA!

Dari film tersebut, kita bisa melihat betapa heroiknya perjuangan para pemuda Indonesia yang bersatu walaupun dengan latar belakang berbeda – beda. Apa yang mereka impikan sama : menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka. Indonesia yang terbebas dari belenggu penjajah. Indonesia yang bebas menentukan arah serta nasibnya sendiri.

Namun, sekarang Indonesia sudah merdeka!

Ketika kita sudah merdeka, apalagi yang perlu kita perjuangkan? Apa yang melandasi semangat pemuda untuk bersatu membela Indonesia?

Apalagi, zaman sekarang sudah sangat modern. Kita pun sudah masuk ke era globalisasi. Sebuah era di mana batas – batas antara negara sudah semakin tipis. Dengan bebasnya arus ekonomi, teknologi, serta informasi, membuat kita harusnya menjadi bangsa yang lebih maju, bukan?

Lalu, untuk apa lagi pemuda bersatu di tengah zaman yang sudah sangat enak ini?

Era Globalisasi Menimbulkan Masalah Baru Bagi Pemuda

Ada seorang peserta seminar yang menurut saya bisa menjawab dengan smart dari sebuah pertanyaan, “mengapa pemuda harus bersatu?” Dia mengatakan,

Walaupun sekarang kita sudah masuk ke era globalisasi, namun itu justru menjadi sebuah tantangan baru bagi kita. Banyak generasi muda yang tidak siap, sehingga mereka bukan dijajah secara fisik, tetapi secara pikiran dan mental. Hasilnya, kita temukan pemuda Indonesia yang lemah karena terpengaruh narkotika, minuman keras, pornografi, dan seks bebas.

Saya sendiri pernah iseng – iseng memasukkan kata kunci ‘pemuda Indonesia’ di Google, dan yang keluar adalah hal – hal yang sangat tidak mengenakkan seperti :

  • Ratusan ribu pelajar di Jawa Barat terlibat narkotika
  • Ratusan pelajar dan anak di bawah umur terlibat prostitusi
  • Ada seorang anak SD yang membunuh temannya sendiri
  • Puluhan pemuda Indonesia mati sia – sia karena menenggak miras oplosan di malam takbiran!
  • dan masih banyak lagi berita miris lainnya.

Inikah potret Indonesia?Seandainya saya mengajak kamu untuk berpikir dan membayangkan, “seperti apa Indonesia di tahun 2045”, apakah yang terbayang di benak kamu?

Jika generasi muda Indonesia yang ada sekarang ini ‘tergerus’ hal negatif tadi, maka bisa kita bayangkan bahwa Indonesia 2045 kemungkinan akan bubar, bahkan menjadi negara gagal karena memiliki angkatan muda yang lemah.

Jika seperti ini, siapa yang bertanggungjawab penuh?

Bukan hanya pemerintah, tetapi juga pemudanya!

Sehingga, marilah kita bersama berpikir. Ingin seperti apakah Indonesia di masa yang akan datang? Saya, membayangkan akan ada 3 skenario untuk Indonesia 2045:

  1. Indonesia bubar, terpecah – pecah, dan menjadi sebuah negara gagal
  2. Indonesia masih dan terus – menerus dikenal sebagai negara berkembang seperti saat ini, atau
  3. Indonesia mendominasi dunia dan menjadi sebuah negara yang ADIDAYA

Jika kamu melihat ketiga pilihan di atas, mana yang ingin kamu wujudkan untuk Indonesia?

100% peserta seminar nasional menjawab dan memilih secara sadar untuk mewujudkan Indonesia Adidaya pada tahun 2045, 100 tahun setelah Indonesia merdeka. Jika kamu menyaksikan seminar nasional itu, kamu akan terharu karena 450 pemuda di hadapan saya bersatu dan siap membantu untuk mewujudkan visi tersebut.

Pendidikan Adalah Kunci Utama Membangun Indonesia Adidaya

Menurut kamu, apa hal yang bisa mengubah generasi muda Indonesia menjadi lebih kuat dan tangguh? Yap, tidak lain dan tidak bukan adalah pendidikan. Pendidikan, merupakan tombak atau kunci utama perjuangan untuk membentuk generasi Indonesia yang cemerlang. Namun, pendidikan di Indonesia ini masih banyak mengalami tantangan yang nyata.

Setahu saya, Indonesia adalah negara yang sangat kaya. Namun, jika kamu pernah ke berbagai kota pelosok di Indonesia, maka kamu akan menemukan bahwa:

  1. Ratusan sekolah di Indonesia kekurangan guru yang berkualitas (bahkan tidak ada gurunya)
  2. Jutaan anak muda Indonesia yang miskin terancam putus sekolah karena kekurangan biaya
  3. Ribuan sekolah di daerah – daerah adalah tempat yang tidak layak, bahkan mau rubuh.

Jika sudah seperti ini, apa yang bisa pemuda lakukan?

Apakah kita hanya menonton saja? Apakah pemuda hanya pasrah? Apakah pemuda hanya cukup untuk berdoa dan menyalahkan pemerintah atas kerjanya yang tidak becus memperbaiki pendidikan di Indonesia ini?

Daripada kita mengutuk kegelapan, maka lebih baik kita menyalakan lilin. Walaupun lilin itu pendek atau kecil. Bersikap proaktif, lebih baik daripada bersikap reaktif.

Saya ingin menunjukkan kepada kamu, bahwa pemuda tidak selemah yang dikira. Saya memiliki banyak teman inspiratif, yang menggagas berbagai gerakan untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa contoh kecilnya.

Maman Abdurakhman, senior saya di UI menggagas Gerakan UI Mengajar. Di mana menantang mahasiswa terdidik di UI untuk berkontribusi terhadap pendidikan di wilayah pelosok atau yang kekurangan guru berkualitas. Berikut ini sedikit teaser nya.

Andri Rizki Putra, mahasiswa UI angkatan 2008 yang sangat concern kepada anak – anak yang terancam putus sekolah. Melalui gerakannya di Yayasan Pemimpin Anak Bangsa, dia membuat sebuah sekolah untuk anak – anak muda yang putus sekolah ini.

Saya sendiri, Arry Rahmawan saat ini sedang berjuang di CerdasMulia Institute untuk membantu anak – anak muda menjadi generasi yang cemerlang. Generasi cemerlang maksudnya hidup dengan bahagia, berprestasi, dan juga berpengaruh bagi lingkungannya.

Menurut saya, jika pemuda itu memang ingin benar – benar berkontribusi dalam dunia pendidikan, saya yakin akan tercipta sebuah gerakan masif untuk mencerdaskan bangsa ini.

Peran pemuda di sektor edukasi bukanlah masalah pengetahuan yang sudah cukup atau belum, namun lebih ke arah apakah pemuda mau atau tidak mau untuk mengubah pendidikan Indonesia.

Terakhir, izinkan saya bertanya,

Apa peranmu untuk mencerdaskan bangsa ini?

Karena sesungguhnya, mendidik adalah tugas wajib dari setiap orang – orang terdidik.

Semoga bermanfaat,

Salam,

Arry Rahmawan
Founder CerdasMulia Institute
Youth Development Trainer

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi (Technology Entrepreneurship & Management) di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Selain menjadi dosen, Arry juga merupakan trainer Business Model Canvas dan Business Model Innovation di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis, Universitas Indonesia. Arry juga aktif membagikan ilmu dan inspirasi di berbagai kampus, perusahaan, dan juga beberapa kementerian di Indonesia tentang inovasi dan kewirausahaan teknologi.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)eng.ui.ac.id

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!