Could create table version :No database selected Pesan Dosen Millennial untuk Mahasiswa Millennial tentang Konflik Kepentingan | Arry Rahmawan
Diary Pengembangan Diri

Pesan Dosen Millennial untuk Mahasiswa Millennial tentang Konflik Kepentingan

Written by Arry Rahmawan

Ketika artikel ini ditulis, media dan netizen sedang ramai membahas isu konflik kepentingan yang menerpa stafsus millennial di lingkungan istana. Konflik kepentingan yang dimaksud terkait dengan staf khusus yang setidaknya memiliki dwi fungsi, yaitu yang satu sebagai pejabat publik dan yang satu sebagai pemilik bisnis. Isu ini menjadi sangat sensitif di kalangan netizen karena setidaknya ada 3 alasan: Pertama, stafsus millennial ini memunculkan harapan baru untuk membuat perumusan kebijakan lebih idealis, bersih, dan berpihak pada rakyat. Kedua, stafsus millennial diidentikkan mewakili suara millennial, mengetahui masalah apa yang ada di millennial, sehingga bisa lebih mudah dicari jalan keluarnya oleh Istana. Apalagi rata – rata seumuran saya, jadi besar juga harapan saya mereka bisa mengakomodir untuk memecahkan akar – akar masalah millennial. Ketiga, saat ini pandemik COVID-19 membuat ekonomi Indonesia babak belur, sehingga hal – hal yang mengesankan pemanfaatan anggaran tidak pada tempatnya akan ‘habis’ dilumat rakyat. Saya sampai sedih lho, ada meme berseliweran di sosial media yang memelintir ucapan bung Karno yang semula “Beri Aku 10 Pemuda, niscaya aku guncangkan dunia”, menjadi “Beri Aku 10 Pemuda, niscaya akan aku guncang Kas Negara”. Kalau orang lain tertawa melihatnya, buat saya ini menyedihkan. Sumpah.

Namun, pada artikel ini, saya tidak membahas lebih dalam mengenai stafsus tersebut, selain karena ini bukan kepakaran saya, sudah banyak juga yang memberikan opini mengenai duduk perkaranya. Salah satu yang bisa saya rekomendasikan untuk dibaca adalah tulisan yang dibuat Choky Ramadhan, tentang apa pelajaran yang bisa diambil dari kasus tersebut terkait konflik kepentingan.

Lalu, apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan di tuilsan ini? Tulisan ini hanyalah sebuah pesan, dari saya sebagai dosen (yang masih termasuk) millennial, untuk mahasiswa millennial. Saya berharap, semoga nantinya jika ada mahasiswa saya yang menjadi stafsus presiden atau orang-orang penting lainnya di republik ini, mereka bisa mengingat poin – poin yang saya sampaikan ini. Walaupun saya hanyalah seorang dosen millennial jelata, siapa tahu sedikit pesan saya ini bisa dipertimbangkan.

Saya akan memulai dengan 5 pesan utama. Yuk silakan dicek poin – poinnya.

PESAN PERTAMA – Belajarlah untuk tidak polos terkait dengan Konflik Kepentingan

Karena beritanya sedang ramai, apa yang ingin saya sampaikan pertama kali adalah jangan polos dengan apa yang namanya konflik kepentingan. Menurut Undang – Undang (UU) Administrasi Pemerintahan, konflik kepentingan didefinisikan sebagai,

“kondisi pejabat pemerintahan yang memiliki kepentingan pribadi untuk menguntungkan diri sendiri dan/atau orang lain dalam penggunaan wewenang sehingga dapat mempengaruhi netralitas dan kualitas keputusan dan/atau tindakan yang dibuat dan/atau dilakukannya.”

Terutama jika kamu berperan sebagai aparatur/pejabat negara, sekaligus pemimpin/karyawan/penggerak organisasi baik komersil. Bahasa sederhananya: jangan polos untuk pura-pura tidak tahu betapa ribetnya konsekuensi dari RANGKAP JABATAN.

Saya akan cerita tentang awal mula saya menjadi dosen di Universitas Indonesia. Sebelum menjadi dosen, begini – begini saya termasuk founder juga, walaupun beda kelas dengan RuangGuru dan Amartha. Dulu saya adalah pendiri CerdasMulia Institute, ProductiveMe Academy, dan Young Trainer Academy, perusahaan/gerakan yang fokus pada pengembangan pemuda Indonesia dalam bentuk pelatihan baik online dan offline. Sales nya pada waktu itu sedang tinggi – tingginya, dan saat itu saya yang menjadi direktur atau CEO nya. Pada saat saya pertama kali ditawari untuk menjadi dosen (statusnya dosen kontrak waktu itu), saya bertanya kepada atasan saya, “perlukah saya mundur dari jabatan saya?”

Jawaban dari atasan saya adalah, “TIDAK PERLU.” Padahal, di titik itu saya sudah mulai khawatir dengan kemungkinan adanya konflik kepentingan.

Baiklah, saya pun tidak banyak bertanya dan menjalankan kedua tugas seperti biasa.

Potensi konflik kepentingan pun kemudian muncul seiring berjalan waktu: terdapat beberapa mahasiswa yang saya ajar ingin mendaftar program – program pelatihan komersil saya di CerdasMulia Institute. Pelatihan ini harganya beragam, mulai dari ratusan ribu, hingga jutaan rupiah.

Mengapa konflik kepentingan muncul? Karena (di pikiran saya waktu itu) jika saya menerima uang dari mahasiswa saya sebagai peserta pelatihan komersil saya, maka status mahasiswanya berubah dari mahasiswa menjadi alumni dan keluarga besar CerdasMulia. Dengan menjadi keluarga besar alumni, hubungan antara saya dengan mahasiswa saya ini berubah, setidaknya menjadi lebih dekat dengan saya. Sedikit banyak, ini akan mempengaruhi keputusan saya untuk menilai mereka di mata kuliah yang saya ampu.

Itu baru dari sisi saya. Bagaimana jika yang melihat orang luar, dari sisi dosen lain ataupun dari kepala departemen atau dekan?

“Apa – apaan tuh si Arry, kok bisa mahasiswanya ikut pelatihannya? Apa karena dia dosen? Apa karena dipaksa? Atau agar si mahasiswa bisa dapat nilai bagus?”

Mulai munculah bola – bola asumsi liar yang tidak bisa saya kendalikan sama sekali. Padahal mahasiswa itu TIDAK SAYA PAKSA sama sekali, dan BEBAS MEMILIH VENDOR mana yang dia mau untuk ikut pelatihan, dan dia memilih ikut pelatihan saya. Apakah saya salah?

Secara aturan tertulis, Saya TIDAK SALAH, tapi di sisi lain saya juga TIDAK ETIS.

Makanya pilihan saya dua: menggratiskan pelatihan untuk mahasiswa saya, atau mahasiswa saya tidak boleh ikut pelatihan saya sama sekali. Sehingga, saya tidak punya hutang budi apapun ke mahasiswa, dan tidak membuat saya bingung bagaimana harus bersikap sebagai dosen.

Apakah pembaca mendapat poinnya?

Konflik kepentingan riil terjadi dalam hidup saya, padahal saya HANYA seorang dosen kontrak jelata, yang digaji sedikit di atas UMR tapi saya berpikir bahwa UMR ini adalah uang dari negara.

Sehingga, ketika datang kesempatan kepada saya untuk menjadi dosen tetap, saya dihadapkan pada dua pilihan: ambil kesempatan menjadi dosen tetap (menjadi aparatur negara, mengajar mata kuliah lebih banyak, dan bisa membimbing tugas akhir), atau saya tetap mengurus CerdasMulia Institute. Sekali lagi, atasan saya TIDAK MEMINTA SAYA MUNDUR, dengan syarat tetap menjaga nilai – nilai etika dan kepatutan sebagai dosen.

Setelah saya berkonsultasi kepada orang tua dan istri, memohon petunjuk, mengucap bismillah, saya pilih menjadi dosen tetap dan MENINGGALKAN jabatan saya di CerdasMulia Institute untuk saya serahkan kepada istri saya sepenuhnya dan bahkan sekarang sudah dinonaktifkan sama sekali untuk kegiatan komersil dan lebih digunakan untuk pembinaan generasi muda secara gerakan sosial.

Karena apa? Itu tadi, KONFLIK KEPENTINGAN. Kebayang kan kalau misal saya tergoda untuk menyuruh mahasiswa ikut pelatihan komersil saya, atau membeli buku yang saya tulis, sebagai syarat mahasiswa tersebut lulus skripsi?

Jadi, menurut saya.. Sangatlah wajar ketika netizen Indonesia ‘meledak’ di tengah pandemik COVID-19 ini karena ada stafsus millennial yang secara ekstrim memberikan contoh buruk dan ribetnya konflik kepentingan itu. Stafsus millennial digadang – gadang sebagai wajah baru dalam pemerintahan yang bisa mereformasi banyaknya konflik kepentingan yang saat ini sudah terjadi di pemerintahan dan birokrasi. Terlepas dari peran stafsus yang tidak punya kapasitas sebagai pengambil keputusan, namun stafsus punya kapasitas untuk memberikan saran dan hasil kajian. Orang bisa saja dengan bebas akan mengada – ada kondisi seperti berikut jika masih ada konflik kepentingan: “Bagaimana jika kualitas saran, masukkan, yang diberikan kepada presiden itu (mungkin secara tidak sadar) merupakan ‘endorse’ untuk menggunakan produk atau jasa milik stafsus?”, “Bagaimana jika kualitas kajian perumusan masalah yang dilakukan oleh stafsus merupakan hasil dari riset pasar perusahaannya, sehingga secara tidak langsung mengatakan bahwa solusi masalah riil Indonesia saat ini adalah produk/jasa mereka?”. Itulah mengapa berlaku polos terhadap konflik kepentingan adalah suatu tindakan yang sangat ceroboh, karena efeknya benar – benar tidak bisa Anda kontrol. Aturan tertulisnya tidak ada, tapi sanksi nya bisa jadi sangat berat.

Kesimpulannya, jika kita sebagai millennial masih berpura – pura polos dengan mengatakan bahwa ini posisi rangkap jabatan publik dan komersil bukan konflik kepentingan, ditambah kepolosan masih perlu banyak belajar birokrasi dan administrasi, harapan menciptakan pemerintahan yang lebih bersih, ideal, dan akuntabel pun menjadi pupus.

Jika suatu saat ada di antara Anda, mahasiswa millennial saya, yang diamanahkan menjadi pejabat publik dan juga memiliki jabatan di tempat lain, tolong pertimbangkan pesan saya ini:

Jangan pura – pura polos dengan yang namanya konflik kepentingan, karena dampaknya sangat nyata. Siiip?

Itu dulu pesan saya, keempat pesan sisanya akan saya sampaikan di artikel berikutnya!

Salam,
Arry Rahmwan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi (Technology Entrepreneurship & Management) di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Selain menjadi dosen, Arry juga merupakan trainer Business Model Canvas dan Business Model Innovation di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis, Universitas Indonesia. Arry juga aktif membagikan ilmu dan inspirasi di berbagai kampus, perusahaan, dan juga beberapa kementerian di Indonesia tentang inovasi dan kewirausahaan teknologi.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)eng.ui.ac.id

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!