Uncategorized

Rahasia Menciptakan Keberuntungan

Beberapa teman lama saya yang beberapa hari terakhir sempat bertemu dengan saya ada yang terheran-heran. Bagaimana bisa seorrang Arry yang sedang sibuk belajar sebagai seorang mahasiswa teknik, bisa membangun sebuah usaha training motivasi yang alhamdulillah saat ini sudah menangani 100 klien lebih? Bagaimana mungkin saat ini seorang Arry sudah memiliki lebih dari 80 lebih sertifikat penghargaan sebagai pembicara dalam berbagai event dalam 2 tahun terakhir? Bagaimana pula seorang Arry bisa menjadi ketua di beberapa komunitas kewirausahaan nasional? Belum lagi jika menghitung rezeki yang mengalir, hehe…

Saya percaya bahwa yang namanya sukses itu adalah persiapan yang bertemu dengan kesempatan. Ini adalah sebuah pernyataan klasik namun sangat relevan hingga sekarang. Masalahnya, banyak orang yang mencibir bahwa itu tidak benar. Kenapa? Karena semua orang pasti bisa mengendalikan dan membuat persiapan, tetapi hanya orang-orang yang beruntunglah yang bisa mendapatkan kesempatan. Pertanyaan saya, bisakah keberuntungan itu diciptakan? Jawabannya, bisa! Ingin tahu bagaimana rahasia menciptakan keberuntungan? Yuk baca tulisan ini lebih lanjut!

Bagian yang Hilang

Ada bagian yang hilang yang sering dilupakan oleh banyak orang saat ingin menciptakan keberuntungan dan memperbesar kesempatan yang ada. Bagian yang hilang itu adalah: komunikasi. Ya, banyak orang yang saat ini sudah mempersiapkan diri untuk bisa menjadi orang yang sukses. Belajar dengan tekun, kerja keras, memperoleh skill  yang mumpuni, dan lain sebagainya. Tetapi ternyata mereka hanya menunggu kesempatan datang.

Mereka tidak berusaha untuk mencarinya, sehingga di sinilah letak keberuntungan itu berbeda bagi setiap orang. Bayangkan jika mereka mengkomunikasikan apa yang mereka miliki. Bayangkan jika mereka memberitahu apa yang mereka bisa, skill apa yang mereka miliki, dan lain sebagainya. Banyak orang yang kurang bahkan tidak PD terhadap kemampuan diri mereka sendiri, dengan mengatasnamakan tidak ingin diri sombong, maka mereka hanya mengkomunikasikan hal-hal kecil yang mereka miliki. Padahal menurut saya yang namanya sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

4 Layers Communication

Sekedar komunikasi saja tidak cukup, namun perlu komunikasi sebanyak 4 lapis. Apa itu komunikasi 4 lapis? Berikut ini adalah lapisan-lapisannya:

  • Self Communication: yaitu adalah komunikasi kepada diri sendiri. Komunikasi ini bermanfaat untuk menganalisis SWOT bagi diri sendiri, menciptakan visi misi, menentukan passion apa yang ingin diasah, hingga merumuskan makna kesuksesan itu sendiri.
  • Friends Communication: Anda memiliki teman atau kerabat dekat, bukan? Maka komunikasikanlah kemampuan dan skill yang telah Anda persiapkan kepada kerabat-kerabat dekat Anda. Sampaikan juga kelebihan-kelebihan Anda dan apa dream job Anda. Sebagai contoh, saya mengkomunikasikan kepada kerabat saya bahwa saya punya kemampuan dalam penempatan SDM organisasi dan saya ingin bekerja di bagian pengembangan kompetensi. Sampai akhirnya pada kerja praktek, saya dikontak oleh tetangga saya yang merupakan manajer SDM BUMN terbuka dan ditawari untuk bekerja di bidang pengembangan kompetensi!
  • Crowd Communication: Bergabunglah di komunitas setelah Anda melakukan berbagai macam persiapan untuk menjemput kesuksesan Anda. Saat berada di komunitas itu, promosikan diri Anda serta kelebihan-kelebihan Anda. Buat kartu nama, buat blog atau link yang bisa diakses oleh orang untuk mengetahui Anda. Crowd communication adalah sebuah cara menciptakan keberuntungan dan kesempatan yang sangat ampuh. Misalnya saat saya bergabung di Komunitas TDA Kampus, saya mendapatkan banyak sekali peluang-peluang besar untuk menangani klien yang berasal dari referensi teman-teman di komunitas.
  • God Communication: Sebagai seorang yang beriman, tidak perlu ragu untuk meminta kepada Tuhan yang Maha Bisa memberikan segalanya. Saya pernah punya keinginan untuk bisa keluar negeri minimal satu kali selama saya menjadi mahasiswa di UI. Saya kemudian belajar bahasa Inggris, belajar TOEFL dan mengambil testnya, dan mempersiapkan paspor serta segalanya. Saya tidak lupa berdoa, bersedekah, dan memperbanyak ibadah agar komunikasi dengan Allah menjadi lancar. Tahu apa yang terjadi? Saya mendapat diterima dan mendapat kesempatan untuk short student exchange di Jepang selama sepekan dan semua biaya ditanggung yang kalau dihitung akan menghabiskan 100.000 yen! Luar biasa, bukan?

Nah, itulah bagaimana cara menciptakan keberuntungan (berdasarkan pengalaman saya). Sederhana, bukan? Hanya memperbanyak komunikasi namun juga harus diperhatikan jangan terlalu berlebihan (seperti misalnya melakukan broadcast yang tidak penting). Komunikasi 4 lapis inilah yang kemudian menjadikan saya memiliki beberapa keberuntungan yang belum tentu didapat orang lain. Saya bersuyukur akan hal itu. Bagaimana menurut Anda?

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Tinggalkan Komentar