Uncategorized

Sedekah yang Bikin Galau

Tidak selamanya sedekah itu menentramkan hati. Justru banyak sekali fenomena yang membuat orang jadi galau untuk bersedekah lagi. Bahkan bersedekah lebih banyak. Loh, kok bisa? Bukankah justru sedekah itu membuka pintu rezeki? Walaupun secara logika apa yang kita miliki berkurang, tapi di satu sisi semesta sedang bekerja untuk memperkaya diri kita. Cek tulisan saya Berhitung dengan Matematika Langit dan Bumi.

Lalu, di mananya yang membuat galau? Kenapa justru bersedekah malah membuat kita menjadi tidak bahagia dan perhitungan? Perhatikan beberapa kisah berikut ini.

Pertama, saya sedang ada di KRL jurusan Bogor-Jakarta untuk kuliah. Di perjalanan, ada seorang anak terseok-seok di dalam kereta sambil meminta uang. Saya sedekahkan pada dia Rp5000. Saat saya turun di stasiun UI, saya melihat anak tadi berlari-lari dengan riangnya. Tanpa ada kecacatan apapun. Saya hanya memandangnya saja.

Kedua, saat saya sedang berada di rumah Bogor setiap akhir pekan, dari pukul 8-10 pagi selalu ada ibu-ibu pakai kerudung berjumlah 9 orang yang terbagi jadi 3 kloter untuk mendatangi rumah kami. Rutin minta sedekah. Saat saya pandangi, mereka semua masih sehat, bugar, dan (maaf) terlihat cukup makan. Kok tidak malu ya menjadikan ngemis itu profesi?

Ketiga, saat saya berada di dalam mobil perjalanan ke Depok atau Jakarta dari Bogor. Saya melihat ada ibu-ibu mengemis di lampu merah sambil menggendong bayi. Ingin memberi, tapi ada hukum di negeri ini yang mengatakan bahwa memberi kepada mereka berarti memberi harapan dan memelihara kemiskinan di ibukota. Bahkan ada sanksinya. Jadi, harus bagaimana?

Pernahkah kamu mengalami 3 hal di atas, atau mungkin agak-agak mirip?

Bersedekah sama dengan memelihara kemiskinan? Bersedekah sama dengan mendukung profesi mengemis? Masalah ini pernah saya diskusikan juga dengan sahabat saya, Fajar dan Mian yang berkata bagaimana agar sedekah kita bisa menjadi efektif?

Sebenarnya jika memang kita ingin bersedekah dan memang niat, kita tidak perlu sampai memikirkan untuk apa hasil sedekah kita akan digunakan. Yang penting tulus, niat lurus, dan dari yang seperti itu pasti juga akan menjadi amalan baik untuk kita. Rezeki akan dilancarkan, urusan pun dipermudah.

Jadi, sampai titik ini sebaiknya tidak usah dipermasalahkan. Anggaplah memang mereka butuh. Seandainya mereka memang menyalahgunakan apa yang kita berikan, biarlah itu menjadi pertanggungjawaban mereka dengan penciptanya.

Tapi, bagaimana jika memang kita ingin sedekah kita tepat sasaran? Bagaimana jika kita memang ingin agar apa yang kita berikan memang dimanfaatkan dengan tepat sesuai dengan semestinya? Menjawab ini pun mudah. Saat ini sudah banyak sekali lembaga atau badan-badan penyalur sedekah yang bagus dan profesional. Mereka melakukan survey dengan sungguh-sungguh siapa saja yang membutuhkan bantuan. Tugas kita hanya tinggal bersedekah, menitipkan uang kepada mereka untuk kemudian disalurkan. Salah satu contohnya adalah SedekahRombongan nya mas Saptuari.

So, sedekah bikin galau? Rasanya sekarang ga lagi deh ya.. Lagian ngapain galau, kalau ternyata sedekah itu banyak manfaatnya? Jangan sampai gara-gara galau berkepanjangan kita jadi tidak pernah bersedekah lagi. Mungkin bisa juga baca tulisan saya yang ini, 3 Kunci Agar Dikejar Rezeki dan Kunci Pasti Kemudahan Rezeki.

Bagaimana menurut sahabat semua? Pernah galau untuk bersedekah? Bagaimana mengatasinya? Silakan share melalui kotak komentar di bawah ya… 🙂

Ingin ngobrol lanjut dengan saya? Follow aja @ArryRahmawan

 

 

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Tinggalkan Komentar