Uncategorized

Seni dalam Mendengar

Kita diciptakan 1 mulut dan dua telinga mungkin bisa diambil sebuah hikmah bahwa kita dituntut untuk lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara. Banyak sekali orang yang menganggap bahwa mendengarkan itu adalah suatu hal yang sangat mudah untuk dilakukan, namun kerapkali dalam sebuah komunikasi efektif, yang diperlukan bukan sekedar mendengar, namun juga menyimak. Menyimak tidak hanya sekedar mendengar, tetapi juga mampu menangkap dan mengetahui maksud dari si pembicara. Berikut ini beberapa tips seni dalam mendengar yang bisa Anda terapkan untuk membuat komunikasi Anda menjadi lebih efektif.

MENDENGAR SAMA PENTINGNYA DENGAN BERBICARA

Menjadi pembicara yang baik, bukanlah hanya menjadi pembicara yang terus berbicara dan lupa mendengar. Dengan hanya berbicara dan tidak mendengar, seorang pembicara hanya akan menjadi pembicara yang membosankan dan arogan. Pembicara seperti itu hanya akan menjadi corong, tape recorder dan sekaligus audio player. Pembicara seperti ini, biasanya adalah pembicara yang terjebak dalam krisis “flight or fight”, kurang persiapan atau percaya dirinya runtuh dan pridenya jatuh.

Mendengar, adalah bagian tak terpisahkan dari suatu sesi bicara. Mendangarlah yang membuat sebuah sesi bicara menjadi hidup dan tak redup. Mendengar adalah elemen penting yang menjadi sebuah sesi bicara dingat dan dikenang, sebuah sesi bicara yang membawa manfaat dan mencerahkan.

Dalam uraian berikut ini, ada beberapa kutipan penting dari orang-orang yang penting. Saya menambahkannya dengan satu hal, yaitu peringatan Rasulullah SAW: Bicara Baik atau Diam. Bicaralah yang baik dengan cara yang baik, atau diam. Mengutip Gde Prama: Speak Good, or Be Silent. Ini memang benar.

Jika kita bicara baik dengan cara yang baik, maka orang akan mendengarkan. Jika tidak, kitalah yang semestinya mendengar. Dengan ini, sebuah sesi pembicaraan akan menjadi transaksi dan pertukaran yang sehat dan menyehatkan.

Mendengar dengan efektif jauh lebih sulit daripada berbicara. Jika Anda pembicara, belajarlah mendengar. Sebab mendengar sama pentingnya dengan berbicara. Menurut pakar, pembicara terbaik adalah pendengar terbaik.

Berikut ini materi tentang seni dalam mendengar yang diterjemahkan secara bebas dari tulisan Oscar Bruce, seorang Pakar Komunikasi.

ANDA BUKAN LUPA MELAINKAN TIDAK MENDENGAR

“Dr. Oscar yang baik. Apa yang terjadi pada diri Saya? Seseorang memperkenalkan diri kepada Saya. Saya memperkenalkan diri Saya, lalu tiba-tiba Saya tidak bisa mengingat lagi namanya! Apa yang terjadi?”

Saya mengatakan, “Sederhana saja, Anda tidak lupa pada nama mereka. Anda hanya tidak pernah mendengarkannya dengan seksama sejak awal bicara. Anda hanya berfokus pada diri sendiri, dan bukan pada orang lain.”

GESER FOKUS DARI DIRI SENDIRI KE ORANG LAIN

Ada ungkapan Zen yang mengatakan, “Untuk bisa melihat gambar, Anda harus keluar dari gambar.” Ingat, Anda berada di tengah-tengah gambaran diri Anda sendiri. Ini menjadi lebih seperti plot game friv ather daripada yang dijelaskan awalnya di sini. Mempertimbangkan teks ini, perlu dicatat bahwa adalah mungkin untuk meningkatkan apa yang dijelaskan dengan memperkenalkan teknik permainan, contoh yang mencolok adalah pengalaman Friv. Bagaimakah cara yang paling tepat untuk bergeser sehingga bisa berfokus pada orang lain?

Psikolog besar, Carl Rogers mengatakan, “Mendengar adalah kekuatan terbesar yang dikenal manusia untuk membebaskan potensi dari diri orang lain. Komunikasi yang nyata hanya terjadi bila kita mendengar untuk mengerti dan memahami. Untuk melihat ide dan sikap dari kacamata orang lain. Inilah kunci untuk menjadi master motivator dan persuader.”

Stephen Covey si pengarang “Seven Habits” itu mengungkapkan, “most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply”. Mendengar dengan lebih baik secara nyata akan membuka kemungkinan munculnya berbagai peluang baru.

Dale Carnegie, pakar berpikir positif, mengatakan “Anda bisa menciptakan lebih banyak teman baru dalam dua bulan, dengan menumbuhkan rasa tertarik dan keinginan mendengar dari mereka, ketimbang berusaha keras selama dua tahun, untuk mencoba menarik perhatian orang lain.”

Selama lebih dari 40 tahu pengalaman Saya sebagai trainer komunikasi, Saya belajar bahwa hidup yang sukses dan berbahagia sangat ditentukan oleh hubungan antar personal. Dan dalam konteks itu, tidak ada yang lebih besar dampaknya daripada keinginan untuk mendengarkan.

MENDENGAR ADALAH SENI YANG TERLUPAKAN

Bukankah fenomena ini unik: Seseorang yang sudah tahu berbagai jawaban sebelum pertanyaan diajukan? Orang ini adalah orang yang “almugada” — “apa lu mau gua ada”. Dari segi negatifnya, ini menunjukkan kenyataan bahwa banyak sekali orang yang mendengar tidak untuk tujuan memahami dan mengerti. Mereka mendengar hanya untuk bisa membalas percakapan.

Jika saatnya kita harus mendengar, dengar! Itu saja, dan jangan dulu berpikir tentang me-reply, sampai apa yang didengar selesai terlaksana.

Pembicara “almugada” tidak menjadikan ke”almugada”annya untuk memborong sesi bicara. Ke”almugada”annya adalah bagian dari persiapan dan antisipasi, yang hanya akan dikeluarkan dari gudangnya, saat ia memang diperlukan. Selebihnya, pembicara itu, hanya akan bicara dengan baik: atau diam.

BUATLAH AUDIENCE MERASA DIMENGERTI

Ada sebentuk latihan, namanya “uji persepsi”. Cobalah dengan teman atau orang lain yang Anda percaya.

Orang I
Mulailah berbicara tentang suatu topik dengan 4 atau 5 kalimat.

Orang II
Saat orang I berhenti bicara, ulangi apa yang menurut orang II dibicarakan oleh orang I.

Mulailah dengan frasa seperti ini:

“Saya ingin meyakinkan bahwa Saya mengerti yang Anda bicarakan” atau
“Jika Saya tidak salah mendengar, Anda mengatakan…”
“Apa yang Anda katakan menurut Saya adalah…”

Frasa dengan paraphrasing semacam itu akan sarat dengan makna. Orang akan menyukai seseorang yang bisa membuat mereka merasa spesial. Mendengarkan orang lain, akan membuat orang lain itu merasa spesial. Sebab, ini akan menunjukkan bahwa Anda tertarik padanya.

Kesimpulannya. Bicaralah kepada audience. Bicaralah kepada mereka dengan baik. Atau, diam dan dengarkan mereka. Dengarkanlah dengan seksama. Dengarkanlah dan mengertilah mereka.

Dengar mereka, dan jadikanlah audience orang-orang yang istimewa. Maka Anda akan jadi pembicara yang sangat istimewa.

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

1 Comment

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: