Uncategorized

Storytelling Marketers

Pernah suatu saat saya mendapatkan tugas keterampilan interpersonal dari Mr. Akhmad untuk membuat analisa kasus bisnis dan merekomendasikan solusinya yang diambil dari majalah Bloomberg Businessweek. Sampai akhirnya saya ketemu dengan satu halaman penuh iklan dari layanan jasa internet cepat dari suatu operator. Minim teks (sekalinya ada kecil-kecil banget tulisannya), full gambar dan itu mendominasi satu halaman penuh. Saya, yang memang nyaris tidak percaya dengan gembar gembor internet cepat yang ditawarkan operator (berdasarkan pengalaman) berpikir, “apakah iklan ini efektif? Apakah banyak orang yang terpengaruh dengan iklan ini?”

Dalam artikel ini saya hanya beropini dan jangan menganggap bahwa opini saya adalah pendapat pakar. Saya hanyalah seorang praktisi bisnis yang masih berusia 21 tahun. Tetapi kemudian saya memunculkan sebuah analisis tersendiri.

“Hari gini masih ngiklan?” Melihat potensi pelanggan yang ada saat ini, tidak ada yang suka dengan iklan. Bahkan, boleh jadi kita benci dengan iklan. Apalagi jika ada titipan-titipan iklan lewat, jika kita sedang ada di milis, kemudian ada promosi iklan. Ngaku, kita pasti tidak suka! Sama dengan saya, sebagai contoh di majalah Bloomberg Newsweek itu, satu halaman yang harusnya penuh informasi malah jadi tidak berguna. Sayang rasanya, walaupun saya tahu iklan itu penting dan menjadi pendapatan tersendiri bagi Bloomberg. Kalau ga ada iklan yang kena kocek mahal banget pastinya majalah itu.

Tapi kemudian begini, masih di majalah yang sama terdapat ulasan mengenai instagram yang diakuisisi facebook. Jujur sebelumnya saya tidak tahu apa itu instagram. Tapi di situ diulas dengan lengkap mengapa sampai instagram diakuisisi facebook. Apalagi jika memang fiturnya yang mantap? Bayangkan kita dapat membuat photoblog dengan praktis, diberi tag, dan dishare serta dikomentari oleh orang-orang di seluruh dunia yang menggunakan instagram! Itu memang bukan iklan, tetapi di situ terdapat sebuah storytelling yang halus, walaupun bukan promosi atau iklan, tetapi membuat (minimal) orang yang belum tahu instagram akan mendownload aplikasi dan mencobanya!

Jadi, apakah ada pergeseran iklan dan pemasaran di sini? Ya, saya suka menggunakan istilah storytelling marketing. Orang yang menggunakan metode ini adalah Storytelling Marketers. Mereka melakukan promosi dengan cara membuat sebuah cerita, sebuah inspirasi, dan ikatan emosi dengan objek-objek interaksi iklan mereka. Karena seorang storytelling marketers menyadari 3 hal:

1. Orang Tidak Suka Iklan, Tetapi Mereka Suka Cerita

Seperti sewaktu saya dan angkatan pergi kunjungan ke pabrik Yakult. Pihak Yakult tidak pernah gembar-gembor kenapa kita harus beli Yakult. Mereka justru menceritakan bahwa Yakult ini dulu dibuat untuk menyelamatkan anak-anak korban PD II, bagaimana sterilnya Yakult itu dibuat, dan mengapa sehat usus itu bisa menjadi sumber panjang umur. Hasilnya? Tidak usah disuruh, anak-anak angkatan saya jadi ada beberapa yang sekarang rutin minum Yakult. Tidak ada brosur, tidak ada iklan. Hanya cerita.

Sama ketika tiba-tiba ada teman kita yang bercerita tentang mantapnya kualitas dari laptop merk X. Dia bercerita bagaimana laptop merk X tahan banting saat tidak sengaja tasnya terjatuh dari tempat cukup tinggi. Anda pasti akan mempertimbangkan untuk memilikinya jika suatu saat mencari laptop. Berawal dari sebuah cerita.

2. Iklan Paling Efektif Tidak Hanya di Frekuensi, Tapi di Intensitas

Iklan di media massa atau media cetak benar dapat meningkatkan frekuensi cakupan orang yang melihat atau membacanya. Tapi apakah berdampak? Kita juga perlu memikirkan intensitas iklannya. Makanya di situlah guna storytelling. Tidak hanya mempengaruhi indra luar, tapi touch the heart juga

3. Konsumen adalah Agen Pemasaran Terbaik

Di saat sekarang yang sudah sangat banyak sekali beredar informasi dan iklan membuat banyak orang sulit percaya mana iklan yang sesuai dengan janji mereka. Jadi? Ada perubahan di sisi marketing yang membuat pemasaran harus lebih dinamis. Perubahan itu ada pada konsumen Anda. Era informasi dan sosial media memungkinkan konsumen kita dapat membentuk komunitas dengan amat sangat mudah sekali.

Sebagai contoh di Grup BB Komunitas TDA Kampus yang amat sangat ramai. Pernah ada yang bertanya, “kalau mau buka franchise, sebaiknya ngambil apa ya?” Kalau mau tahu, ada ratusan bahkan ribuan iklan franchise. Mana ada sih franchise yang bilang franchisenya jelek? Tapi member kemudian akan saling menjawab dengan rekomendasi mereka berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. Jadi, perlukah iklan lagi? Perlu, tapi yang paling penting adalah tunjukkan pelayanan dan pastikan produk kita sesuai atau melebihi ekspektasi konsumen, maka mereka akan sangat senang hati menjadi agen-agen pemasaran di komunitasnya, tanpa syarat dan tanpa biaya!

Itulah mengapa alhamdulillah cara kerja dari Lembaga Training CerdasMulia, CerdasMedia Publishing House, dan CerdasKreasi Digital and Web Design. Asal kamu tahu, dari ketiganya hanya mengandalkan promosi word to mouth dan storytelling marketers. Biayanya murah dan hampir gratis bahkan, tetapi saya banyak mendapat repeated order tanpa harus mengeluarkan biaya pemasaran yang besar.

Yah, sekali lagi ini hanya opini praktisi usia 21 tahun, hehe. Jadi, kalau salah maaf-maaf ya. Hanya saja saya rasa kita harus siap untuk mendobrak sistem pemasaran lama yang hanya menampilkan iklan-iklan satu arah yang membosankan. Perlu terobosan-terobosan karena memang semakin lama perilaku konsumen semakin dinamis. Bagaimana menurut Anda?

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen kewirausahaan teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia yang saat ini sedang melakukan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki semangat dan passion dalam menulis, khususnya melalui media blog. Tulisan - tulisan di blognya ssat ini mayoritas membahas tentang kehidupan seputar akademik di perguruan tinggi, pengembangan diri, serta entrepreneurship.

Pada tahun 2013, buku Studentpreneur Guidebook yang ditulisnya menjadi national best seller dan rujukan pengajaran kewirausaahaan untuk pelajar serta mahasiswa di Indonesia. Sejak tahun 2013, Arry juga aktif membantu Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia untuk menyeleksi dan membina para entrepreneur terbaik dari sivitas akademik UI. Dalam 10 tahun terakhir, Arry juga dipercaya untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan jasa konsultasi bagi kementerian, BUMN, korporasi, serta yayasan yang ingin menumbuhkan kewirausahaan dalam organisasi (corporate entrepreneurship / intrapreneurship) atau melakukan inovasi bisnis untuk bisa terus bertumbuh di era disruptif seperti saat ini.

Untuk terus mengembangkan minat keilmuannya di bidang kewirausahaan, Arry belajar dari para pakar kewirausahaan Eropa melalui Delft Centre for Entrepreneurship di Technische Universiteit Delft, Belanda sejak tahun 2019.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!