Inovasi Bisnis Keilmuan Kewirausahaan Dasar

Strategi Menghasilkan Produk dan Jasa Alternatif untuk UMKM di tengah krisis COVID-19 dengan Adaptive Needfinding (Seri Self-Coaching UMKM #2)

Written by Arry Rahmawan

Saya tidak menyangka tulisan saya sebelumnya tentang salah satu strategi menghadapi krisis COVID-19 untuk UMKM dengan menggunakan powerful questioning mendapatkan respon positif. Banyak di antara pelaku UMKM yang ingin menggali lebih dalam bagaimana menghasilkan powerful questions yang dapat menggali ide – ide kreatif untuk mempertahankan bisnis. Ketika saya ngobrol dengan beberapa pelaku UMKM di Indonesia, beberapa alternatif keputusan yang mungkin diambil untuk bisnis mereka di tengah krisis COVID-19 ini adalah:

  1. Tetap bertahan dengan model bisnis mereka sekarang, dengan melakukan berbagai macam penghematan operasional (salah satunya merumahkan karyawan)
  2. Mencari alternatif model bisnis baru yang relevan dengan market di tengah COVID-19
  3. Menutup bisnis, mencari pekerjaan untuk penghasilan yang lebih pasti

Pada artikel kali ini, saya ingin berbagi tentang hasil diskusi ringan dengan beberapa teman UMKM yang berfokus untuk menggunakan strategi kedua: mencari alternatif model bisnis baru yang relevan dengan market di tengah COVID-19. Menggunakan strategi nomor 2, menuntut pelaku bisnis agar dapat lebih adaptif dan produktif mencari solusi. Saya akan mencontohkan hal paling sederhana yang dilakukan beberapa teman UMKM saya.

Ambil contoh si A, yang sebelum COVID-19 berjualan baju di sebuah toko online. Seperti yang saya tulis sebelumnya di artikel berjudul “Strategi Mempertahankan Bisnis untuk UMKM di Tengah Pandemik COVID-19 menggunakan Powerful Questioning”,  si A ini sudah banyak menyetok baju sehingga persediaannya berlimpah dan kekurangan uang cash untuk melakukan adaptasi bisnis. Berikut adalah salah satu strateginya,

  1. Teman saya si A mengidentifikasi permintaan terbesar di toko online selama COVID-19: masker, hand sanitizer, rempah, jamu, obat – obatan.
  2. Karena teman saya si A tidak punya banyak cash, dia mengontak supplier produk tersebut yang harga jualnya sangat murah, lalu menjadi dropshipper untuk pangsa pasar di sekitar rumah atau wilayahnya
  3. Dia mendapatkan uang cash
  4. Dia memproduksi sendiri produk tersebut
  5. Dia menjual dengan margin keuntungan lebih besar
  6. Dia mendapatkan profit yang lebih banyak
  7. Stok baju tetap dipertahankan sampai permintaan baju lebih baik, atau…. dia menjualnya dengan harga lebih murah… setidaknya untuk balik modal saja atau jual rugi yang penting punya cash.

Strategi di atas adalah strategi paling umum yang saya dengar dari beberapa rekan saya yang merupakan pelaku UMKM. Mungkin Anda juga melakukan hal yang sama, yaitu bersikap adaptif dengan apa yang diminta pasar pada saat sekarang. Namun, tidak semua model bisnis bisa melakukan shifting seperti itu, bukan? Dan tentu kalau semua bisnis melakukan hal yang sama persis seperti di atas, maka bisnis di Indonesia hanya didominasi oleh industri masker, bahan kimia, dan obat – obatan atau suplemen. Jadi, bagaimana cara sektor bisnis lainnya dapat menerapkan pola adaptif ini?

Selain menggunakan teknik powerful questioning, teknik lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan sebuah teknik yang saya beri nama adaptive needfinding, atau teknik mengetahui apa kebutuhan pelanggan secara adaptif.

MENGENAL TEKNIK ADAPTIVE NEEDFINDING: LEAVING WHERE YOU ARE, GOING WHERE THE MARKET IS

Secara umum, adaptive pathfinding adalah sebuah teknik yang akan memaksa kita untuk meninggalkan pola – pola, model bisnis lama, menuju ke arah yang baru sesuai arah pasar / market menuju. Berikut adalah model atau gambaran Adaptive needfinding secara umum yang semoga bisa bermanfaat untuk rekan – rekan semuanya,

Model adaptive needfinding untuk UMKM Indonesia menghadapi krisis COVID-19

BAGAIMANA SAYA MENYUSUN MODEL ADAPTIVE NEEDFINDING?

Saya menyusun model adaptive needfinding berdasarkan beberapa literatur crisis management atau disaster management untuk UMKM. Beberapa poin penting dari literatur tersebut saya rangkum dan saya konsultasikan ke beberapa rekan saya di komunitas TDA dan alumni kampus saya untuk mendengarkan feedback mereka. Berdasarkan feedback tersebut, saya mencoba merumuskan kembali model adaptive needfinding yang (mudah-mudahan) bisa lebih mudah dipahami dan cocok untuk konteks UMKM di Indonesia.

2 PRINSIP ADAPTIVE NEEDFINDING – Memahami Pelanggan dan Merumuskan Alternatif Produk atau Jasa Baru

Prinsip pertama untuk menerapkan teknik adaptive needfinding ini adalah dengan mencoba memahami kembali perspektif pelanggan kita SEBELUM COVID-19. Anda bisa menggunakan tools seperti Empathy map canvas (yang lain kali akan saya coba bahas). Atau, Anda bisa mengecek kembali 4 aspek bagaimana pelanggan kita:

  1. Mempersepsikan produk / jasa kita
  2. Berpikir tentang produk / jasa kita
  3. Merasakan produk / jasa kita
  4. Memutuskan untuk membeli produk / jasa kita atau tidak

Kesalahan terbesar pelaku UMKM umumnya tidak melakukan validasi langsung asumsi mereka terhadap konsumen. Sehingga, kebanyakan dari asumsi mereka salah. Misalnya, “saya yakin produk ini masih laku di pasaran walaupun COVID-19 menyebar di Indonesia.” Jika asumsi tersebut murni datang dari pikiran dan perasaan kita sendiri, hati – hati. Seringkali asumsi tersebut salah karena kita tidak melakukan validasi ke pelanggan langsung.

Prinsip kedua untuk menerapkan teknik adaptive needfinding ini adalah dengan menemukan alternatif produk/jasa atau model bisnis yang dapat diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang telah berubah tersebut.

Maka, setelah Anda benar – benar memahami pelanggan Anda saat ini, berikutnya adalah Anda menganalisis fakta itu dalam 4 aspek:

  1. Perubahan perilaku pelanggan akibat COVID-19
  2. Perubahan kebutuhan pelanggan akibat COVID-19
  3. Perubahan nilai tambah yang bisa kita ciptakan akibat COVID-19
  4. Alternatif produk atau jasa baru yang bisa memenuhi perubahan kebutuhan pelanggan akibat COVID-19

Dalam gambar model di atas, Anda dapat melihat bahwa saya masih menggunakan teknik powerful questioning seperti yang saya jelaskan di artikel saya sebelumnya. Saya masih menggunakan asumsi bahwa Andalah yang sebenarnya paling tahu solusi untuk diri Anda sendiri, karena Anda yang paling berpengalaman di bidang Anda masing – masing.

Demikian sharing saya hari ini mengenai adaptive needfinding. Walaupun masih perlu banyak diuji dan dilihat hasil penerapannya, namun semoga model ini bisa membantu teman – teman di UMKM untuk bertahan di bisnis yang saat ini sedang dijalankan.

Bagaimana menurut Anda? Jika Anda memiliki masukan dan saran, silakan sampaikan di kotak komentar di bawah. Termasuk, beritahu saya apa hasil yang Anda dapatkan saat menerapkan atau mengaplikasikan teknik ini bersama tim Anda. Saya akan dengan senang hati memperbarui tulisan ini dengan menambahkan studi kasus riil dari penerapan teknik ini. Entah saat ini bisnis Anda bersifat B2C atau B2B, entah bisnis Anda saat ini di sektor pertanian, perhotelan, perikanan, restoran, ritel, dan sebagainya, saya nantikan cerita dari Anda.

Semoga bermanfaat!

Salam,
Arry Rahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi (Technology Entrepreneurship & Management) di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Selain menjadi dosen, Arry juga merupakan trainer Business Model Canvas dan Business Model Innovation di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis, Universitas Indonesia. Arry juga aktif membagikan ilmu dan inspirasi di berbagai kampus, perusahaan, dan juga beberapa kementerian di Indonesia tentang inovasi dan kewirausahaan teknologi.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)eng.ui.ac.id

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!