Fase Menumbuhkan Kelas Studentpreneur

Studentpreneur Class #5: Mengenal 3 Jenis Inovasi dalam Bisnis Startup

Written by Arry Rahmawan

Inovasi merupakan salah satu topik di mana mahasiswa paling bersemangat jika mengikuti sesi ini di kelas kewirausahaan teknologi yang saya bawakan. Inovasi (Innovation), menurut kamus Merriam-Webster, adalah upaya memperkenalkan ide – ide baru untuk meningkatkan sesuatu agar memiliki kinerja yang lebih baik. Inovasi tentu merupakan salah satu kunci keberhasilan dari seorang entrepreneur membangun startup atau sebuah bisnis rintisan. Namun bukan hanya untuk startup, bagi perusahaan yang sudah menjadi pemimpin pasar pun, inovasi sangat penting. Banyak contoh bisnis yang sudah menjadi pemimpin pasar namun bangkrut karena terlambat. Masih ingat di benak kita ketika pada tahun 2010an, Indonesia sangat menggandrungi ponsel cerdas BlackBerry. Namun semakin lama ponsel tersebut tidak dapat bersaing dengan kehadiran Android serta Apple yang semakin terjangkau masyarakat. Apalagi dengan ditambah kondisi pandemi seperti saat ini, bisnis yang tidak berinovasi akan sangat kesulitan bertumbuh dikarenakan perubahan perilaku pasar yang sangat ekstrim dan tidak dapat diprediksi sebelumnya.

Pada kelas Studentpreneur ke-5 kali ini, saya ingin memperkenalkan kepada para pembaca semuanya mengenai 3 jenis inovasi yang saat ini menentukan kinerja suatu bisnis.

MENGENAL 3 JENIS INOVASI BISNIS

Dalam buku The Invincible Company, yang ditulis oleh Alexander Osterwalder dkk, mengemukakan bahwa ada 3 jenis inovasi yang selalu konsisten dilakukan oleh perusahaan – perusahaan bisnis top dunia sehingga mereka selalu mampu memenangkan persaingan dan bertahan di tengah gempuran ketidakpastian. Konsep inovasi ini dipinjam dari konsep yang digagas oleh Profesor Clayton Christensen dari Harvard yang menggagas tentang konsep inovasi disruptif.

Ketiga jenis inovasi tersebut adalah: Efficiency innovation, sustaining innovation, dan transformative innovation.

Saya akan mencoba menjelaskan satu per satu mengenai ketiga inovasi tersebut. Agar lebih mudah memberikan gambaran, saya akan menggunakan studi kasus bisnis pembuatan mie instan.

Alkisah Andi adalah pengusaha muda yang ingin mencoba peruntungan membuat perusahaan mie instan dengan resep bumbu rahasia dari keluarganya. Setelah belajar dan mencoba bereksperimen, akhirnya mie X produksi perusahaan Andi ini booming dan sangat laku di pasaran.

Agar bisnisnya dapat terus berlanjut dan berkembang, Andi memutuskan untuk melakukan 3 jenis inovasi di perusahaannya.

Pertama, efficiency innovation. Inovasi ini adalah inovasi yang berfokus pada peningkatan performa operasional dari sebuah bisnis dengan tanpa mengubah sama sekali model bisnis yang sudah ada. Sebagai contoh, Andi mengembangkan metode pengepakan dan berinvestasi pada mesin baru, yang ternyata mampu menurunkan kerusakan atau barang cacat hingga 10% dibandingkan dengan produksi sebelumnya. Hasil dari inovasi ini adalah berkurangnya barang reject yang dihasilkan karena kesalahan produksi. Namun, inovasi jenis ini tidak mengubah model bisnis perusahaan tersebut, yaitu adalah melakukan penjualan mie instan.

Kedua, sustaining innovation. Inovasi ini bersifat mengeksplorasi kemungkinan baru berdasarkan bisnis model yang sudah ada untuk menghindari decline pada siklus hidup produk yang dihasilkan. Contoh paling sederhana untuk jenis sustaining innovation ini adalah dengan membuat produk atau jasa baru, menginisiasi kanal distribusi yang baru, atau ekspansi alias buka cabang di wilayah – wilayah baru. Inti dari sustaining innovation adalah tetap menjadi pemimpin di pasar tersebut, tanpa mengubah model bisnis yang sudah ada. Berdasarkan ilmu ini, Andi melakukan sustaining innovation dengan membuat varian rasa baru mie instan yang menyesuaikan dengan sajian khas nusantara, yang belum pernah ada sebelumnya (saat ini hanya ada varian rasa kari ayam dan baso sapi). Dan seperti yang sudah diduga, inovasi ini membuat mie instan rasa nusantara, seperti soto banjar, rasa rendang, dan lain sebagainya booming. Andi juga kemudian membuat varian rasa sayuran dan membuat mie nabati yang lebih sehat sebagai solusi untuk masyarakat yang sangat concern terhadap kesehatan di tengah pandemi COVID-19.

Ketiga, transformative innovation. Inovasi ini adalah inovasi yang cenderung lebih sulit dibanding 2 inovasi sebelumnya karena inovasi ini mencoba mengeksplorasi ide-ide yang tidak relevan dengan model bisnis tradisional. Inovasi jenis ini umumnya bersifat radikal dan membuat adanya perubahan yang signifikan dari model bisnis yang sudah ada. Misalnya, Andi melihat bahwa tren anak muda saat ini (sebelum pandemi) adalah menghabiskan waktu di cafe. Agar bisnisnya dapat bertahan dalam jangka panjang, Andi membuat jaringan restoran khusus mie instan produksinya yang disajikan secara mewah sesuai saran penyajian premium. Model bisnis ini bukan lagi model bisnis menjual mie instan, tetapi juga manajemen restoran. Dengan membuat inovasi ini, setidaknya Andi selalu memiliki demand tetap dari restorannya sendiri dan membuat brand mie instan nya semakin melekat pada diri anak muda.

MENGENAL KELEBIHAN DAN KEKURANGAN DARI MASING – MASING INOVASI

Pernah dalam suatu sesi mata kuliah Sistem Kualitas, saya menjelaskan tentang metode Six Sigma yang banyak digunakan dalam keilmuan Teknik Industri untuk meningkatkan hasil kualitas produksi sesuai spesifikasi yang diinginkan. Six Sigma ini dipopulerkan oleh perusahaan Motorola, yang pernah berjaya pada masanya dan juga pernah tenggelam dalam persaingan ponsel pada zaman dulu. Pertanyaannya,

“Mengapa kita harus belajar Six Sigma, jika yang mencetuskan saja tenggelam?”

Jawabannya sederhana: Six Sigma adalah metode yang menggunakan pendekatan efficiency innovation. Inovasi yang difokuskan oleh Six Sigma adalah peningkatan kualitas produksi dan mengurangi variasi produksi di luar batas spesifikasi produksi. Nah, lalu mengapa tenggelam? Karena pada saat perusahaan terlalu fokus pada inovasi yang bersifat operasional, maka perusahaan ini memiliki ‘titik buta’ terkait dengan perilaku dan selera konsumen yang berubah. Sehingga ketika Motorola cenderung terus – menerus berupaya meningkatkan kualitas ponselnya, mereka menggunakan asumsi selera konsumen di masa lalu dan lupa untuk mengupdate asumsi ini. Nah, sayangnya bagi perusahaan yang ingin mencoba up to date dengan respon pasar yang berubah – ubah, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa mereka harus melakukan transformative innovation ini.

Paragraf di atas sekaligus mejelaskan fenomena terkenal yang dinamakan the innovator’s dilemma, yang mana terlalu fokus pada efficiency dan sustaining innovation akan menyebabkan perusahaan buta dalam melakukan transformative innovation, sehingga perusahaan akan mudah terdisrupsi. Konsep ini digambarkan oleh Osterwalder et al (2020) dalam bukunya the invincible companies bahwa ketiga inovasi tersebut berada dalam spektrum yang berbeda. Ada dua sisi spektrum dalam inovasi, yaitu exploit dan explore. Exploit berarti menggali model bisnis secara lebih dalam, sementara explore berupaya untuk menjelajahi kemungkinan model bisnis lainnya yang lebih baik.

Efficiency innovation fokus pada inovasi yang bersifat exploit, Sustaining innovation fokus pada inovasi yang bersifat kombinasi antara exploit dan explore, sementara transformative innovation berfokus pada inovasi yang sifatnya explore. Secara sederhana diilustrasikan dalam gambar berikut ini,

Ilustrasi perbedaan antara ketiga jenis inovasi (Osterwalder et al., 2020)

Makanya dalam kelas pengantar kewirausahaan teknologi yang saya ampu di Teknik Industri Universitas Indonesia, memperkenalkan ketiga konsep ini. Menariknya, saya memperkenalkan ini juga berbasis pada pengalaman eksperimen mahasiswa dalam membangun startup di lapangan, sehingga mereka dapat memahami konsep inovasi dengan lebih baik dan relevan di era disrupsi saat ini.

Semoga bermanfaat untuk sahabat Studentpreneur semuanya.

Salam,
Arry Rahmawan
Dosen Kewirausahaan Teknologi, Universitas Indonesia
Coach, Indonesian Studentpreneur Academy

Catatan:

Studentpreneur class adalah seri artikel yang membahas khusus seputar topik kewirausahaan. Seri artikel ini merupakan bagian dari materi pelajaran yang saya berikan dalam mata kuliah Pengantar Kewirausahaan Teknologi, Universitas Indonesia. Beberapa bagian dari seri artikel ini juga dimuat dalam buku best-seller saya, Studentpreneur Guidebook, yang diterbitkan oleh GagasMedia. Artikel yang ada pada seri studentpreneur class ditujukan untuk referensi praktis lapangan, dan bukan referensi artikel ilmiah karena masih harus diuji lebih lanjut validitasnya.

Referensi:

Bland, D. J., & Osterwalder, A. (2019). Testing business ideas: A field guide for rapid experimentation. John Wiley & Sons.

Osterwalder et al., (2020). Osterwalder, A., Pigneur, Y., Smith, A., & Etiemble, F. (2020). The Invincible Company: How to Constantly Reinvent Your Organization with Inspiration From the World’s Best Business Models. John Wiley & Sons.

Rahmawan, A. (2013). Studentpreneur Guidebook: Berani Memulai Bisnis di Usia Muda. Jakarta: GagasMedia.

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah seorang pembelajar dan juga praktisi pendidikan. Arry merupakan dosen tetap di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Saat ini Arry sedang menjalankan tugas belajar dengan melanjutkan studi doktoral di Faculty of Technology, Policy, and Management, Technishce Universiteit Delft, Belanda. Bidang yang ditekuninya saat ini adalah metode pemodelan dan simulasi sistem untuk pengambilan keputusan di bidang transportasi, khususnya transportasi laut.

Di sela-sela kesibukannya, Arry senang berbagi pemikiran seputar pendidikan dan pengembangan diri melalui blognya di arryrahmwan.net, Youtube Channel, dan juga sebagai trainer di CerdasMulia Institute.

Arry berpengalaman sebagai narasumber di berbagai macam instansi pemerintah, kementerian, BUMN, dan institusi pendidikan. Apabila berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)gmail.com.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!