Entrepreneurship & Business Studentpreneur

Studentpreneur Class #7 – Modal Pembiayaan untuk Membangun Startup

Salah satu pertanyaan yang sering saya dengar dari studentpreneur pemula yang ingin membangun startup adalah: “bagaimana caranya agar saya mendapat modal pembiayaan untuk membangun startup?”

Seperti membangun bisnis pada umumnya, tentu seorang founder membutuhkan dana segar untuk dapat memulai bisnis. Untuk studentpreneur pemula, saya menjelaskan secara sederhana bahwa umumnya ada 2 tipe pendanaan startup: Jalur Bootstrapping atau raising investor capital.

Pada artikel kali ini, saya akan membahas 2 konsep paling umum untuk memberikan gambaran bagaimana skema pembiayaan untuk membangun bisnis startup tersebut, termasuk pro dan kontranya.

Materi ini juga sedikit banyak saya bahas di Kelas Pengantar Kewirausahaan Teknologi yang saya bawakan di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia.

Mengenal Konsep Bootstrapping vs Raising Investor Capital

Bagi kamu studenptreneur yang baru memulai membangun startup, mungkin ada yang pernah mendengar istilah Bootstrapping dan raising investor capital. Istilah ini memang banyak digunakan oleh praktisi startuptech di Silicon Valley untuk menjelaskan sumber pembiayaan startup mereka.

Kedua istilah ini tidak terlalu sulit dipahami.

Bootstrapping: Mulai membangun startup dengan sumber daya yang sudah kita miliki (sumber daya eksisting)

Raising Capital: Mencari investor luar yang ingin mendanai startup yang kita bangun (mencari sumber pendanaan luar)

Pertanyaan berikutnya adalah: manakah skema yang harus diambil? Jawabannya tidak ada benar atau salah, namun disesuaikan dengan kondisi serta tujuan membangun startup itu sendiri.

Saya memiliki sedikit pengalaman membangun bisnis menggunakan kedua cara ini. Untuk bootstrapping saya terapkan ketika membangun lembaga pelatihan CerdasMulia Institute dan juga termasuk platform pelatihan Online, ProductiveMe! Academy Online. Saat membangun kedua bisnis ini, saya full menggunakan tabungan pribadi dari uang yang saya sisihkan sebagai mahasiswa (waktu itu saya masih mahasiswa semester 3). Saya juga menggunakan sumber daya yang ada saja, seperti laptop, internet, pinjam kamera punya ayah saya, dan pokoknya semua yang bisa saya pinjam kemudian saya pakai sebagai modal usaha awal.

Saya pun memiliki pengalaman menggunakan cara raising capital, di mana ketika membangun Startup saya dan tim mencoba mencari pendanaan dari pihak luar. SignifierGames dan Penni adalah 2 startup yang mendapatkan pendanaan dari Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis sebesar ratusan juta untuk dikembangkan menjadi sebuah startup yang lebih besar. Lalu berdasarkan pengalaman tersebut, apa saja kekurangan dan kelebihan dari Bootstrapping dan Raising capital?

Berdasarkan pengalaman, berikut ini adalah kelebihan dan kekurangan Bootsrapping:

Kelebihan Bootsrapping
(+) founder menjadi pemiliki penuh dan memiliki kontrol penuh atas arah pengembangan bisnis

(+) Less pressure, karena ini adalah modal pribadi jadi kita tidak perlu khawatir untuk memenuhi ekspektasi pihak luar. Kitalah yang merencanakan dan mengarahkan capaian bisnis kita sendiri

(+) Tidak ada risiko wanprestasi investasi, karena modalnya adalah sumber daya kita sendiri.

(+) Cocok untuk yang masih bereksperimen atau ingin coba – coba merasakan dunia bisnis itu seperti apa.

Kekurangan Bootstrapping
(-) Memiliki pertumbuhan bisnis yang (kadang – kadang) sangat lambat

(-) Harus berhati – hati dan disiplin dalam mengelola keuangan. Jika tidak disiplin, maka antara uang bisnis dan uang pribadi dapat tercampur dan akhirnya menjadi tidak jelas.

(-) Kita hanya dapat mengandalkan network kita sendiri, yang umumnya terbatas. Tidak ada orang yang bisa memperkenalkan kita pada mentor atau guru-guru bisnis yang sudah teruji di bidangnya

(-) Keterbatasan dalam kemampuan merekrut orang – orang terbaik, karena umumnya kita tidak dapat memberikan gaji, tetapi komisi dari pendapatan (revenue-dependent income).

Sementara untuk kelebihan dan kekurangan dari raising capital adalah sebagai berikut:

Kelebihan Raising Capital
(+) Pertumbuhan bisnis yang sangat cepat karena didukung dana besar, di mana kita bisa melakukan uji produk dan pasar dengan lebih cepat

(+) Kemampuan untuk merekrut orang – orang terbaik dan pengalaman di bidangnya, karena memiliki dana yang dapat dialokasikan untuk hal tersebut

(+) Jaringan yang lebih luas, karena umumnya investor akan membukakan pintu jaringannya yang dapat dijadikan penasihat atau mentor kita dalam berbisnis

(+) Cocok untuk mereka yang sudah memiliki pengalaman (khususnya pengalaman gagal) berkali – kali dalam bisnis dan sudah bulat untuk serius membangun startup (bukan lagi jalan coba – coba).

Kekurangan Raising Capital
(-) Berkurangnya otonomi terhadap bisnis, karena kita harus “mendengarkan” arahan dari investor yang menanamkan sahamnya ke bisnis kita. Istilahnya adalah ownership dilution

(-) Menjalankan bisnis dengan tekanan, karena harus lapor secara berkala kepada investor dalam waktu tertentu, istilahnya progress meeting. Waktu bisnis yang saya bina mendapatkan dana dari Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis, saya harus melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) 3 kali dalam setahun.

(-) Adanya risiko wanprestasi, jika apa yang kita janjikan tidak sesuai dengan yang diterima oleh investor. Hal ini marak terjadi di Indonesia ketika uang yang dikelola tidak menghasilkan tingkat return yang dijanjikan

(-) Adanya kemungkinan pencaplokan bisnis. Ketika bisnis sudah semakin lama semakin besar, uang yang masuk sudah banyak dan dari berbagai investor, bisnis kemudian dapat di takeover oleh investor sebagai pemegang saham karena porsi penyertaan modal founder semakin lama semakin kecil. Selain itu, investor mayoritas juga dapat menentukan siapa yang duduk sebagai C-level bisnis. Dalam beberapa kasus, owner harus menjual sahamnya kepada investor atau exit dari bisnisnya sendiri. Salah satu contohnya adalah founder perusahaan ecommerce lokal Indonesia yang keluar pada akhir tahun 2019 dari bisnis yang didirikannya selama 10 tahun.

Nah, sudah ada gambaran kan terkait dengan plus minus dari Bootstrapping dan Raising Capital?

Lalu, manakah skema yang bisa kamu pilih sebagai Studentpreneur?

Sekali lagi, tergantung kondisi dan tujuan bisnismu.

Jika saat ini kamu baru mulai mencoba, ingin merasakan pengalaman sebagai entrepreneur tanpa harus tertekan dengan ekspektasi investor, kamu bisa bootstrapping. Tapi kamu harus bersiap jika pertumbuhan bisnis lambat.

Namun jika kamu adalah studentpreneur berpengalaman yang memang ingin fokus berkarir sebagai startup founder, maka raising capital bisa menjadi pilihan. Dengan mendapatkan dana luar, jaringan, koneksi, dan mentor – mentor berkualitas, pertumbuhan bisnis dapat semakin cepat. Namun pastikan kamu sadar segala konsekuensinya, karena biasanya terikat dengan pasal – pasal hukum. Selain itu, raising capital cocok juga bagi tipe founder yang punya rencana exit dari bisnisnya sendiri selama 10 – 15 tahun ke depan, jadi tidak selamanya di bisnis itu.

Semoga pembahasan kali ini bermanfaat ya buat para Studentpreneur yang sedang mempelajari tentang pendanaan Startup!

Salam,
Arry Rahmawan

Dosen Pengantar Kewirausahaan Teknologi, Universitas Indonesia
Staf Ahli, Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis UI (2015 – 2019)
PhD Candidate, Delft University of Technology


Catatan:

Studentpreneur class adalah seri artikel yang membahas khusus seputar topik kewirausahaan. Seri artikel ini merupakan bagian dari materi pelajaran yang saya berikan dalam mata kuliah Pengantar Kewirausahaan Teknologi, Universitas Indonesia. Beberapa bagian dari seri artikel ini juga dimuat dalam buku best-seller saya, Studentpreneur Guidebook, yang diterbitkan oleh GagasMedia. Artikel yang ada pada seri studentpreneur class ditujukan untuk referensi praktis lapangan, dan bukan referensi artikel ilmiah karena masih harus diuji lebih lanjut validitasnya.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Leave a Comment