Kelas Studentpreneur

#STUDENTPRENEUR TIPS: Traditional vs. Modern Demographics Customer

Written by Arry Rahmawan

#STUDENTPRENEUR TIPS merupakan rubrik artikel berseri yang saya buat khusus untuk menambah wawasan para pembaca buku terbaru saya, STUDENTPRENEUR GUIDEBOOK.  Agar mendapatkan pemahaman yang menyeluruh, sebaiknya Anda membaca habis terlebih dahulu buku STUDENTPRENEUR GUIDEBOOKKlik Di Sini untuk pemesanan.

Buat kamu para studentpreneur yang ingin memulai bisnis tentu saja ingin agar nantinya produk atau jasa yang disediakannya laku keras atau setidaknya orang mau membelinya. Tentu begitu bukan? Oleh sebab itu tentu kita harus memastikan sebelum memulai bisnis bahwa produk atau jasa kita harus ada yang mau membelinya.

Bagaimana cara menemukan siapa yang ingin membeli produk kita? Biasanya cara yang paling mudah adalah berhasilnya kita mengidentifikasi kebutuhan masyarakat kita. Untuk mengetahui kebutuhan ini cara yang paling umum adalah dengan melakukan analisis demografi, yaitu mengidentifikasi kebutuhan berdasarkan struktur populasi yang ada di masyarakat.

Sayangnya, banyak kemudian studentpreneur yang bercerita kepada saya, “Bang, gue udah melakukan riset pasar nih tapi kok ga ada yang mau beli ya?”

Pernah mengalami hal yang serupa?

Ternyata, setelah saya melakukan analisis beberapa saat ini saya menyadari bahwa analisis demografi terbagi menjadi dua, yaitu secara tradisional dan modern. Kebanyakan orang masih terbatas hanya menganalisis demografi secara tradisional. Bagaimana dengan analisis demografi yang lebih modern? Memangnya ada? Berikut ini jawabannya!

Demografi Tradisional

Secara tradisional umumnya dalam mengidentifikasi pelanggan agar lebih mudah kita membaginya dengan kategori berikut ini,

  • Berdasarkan umur
  • Berdasarkan gender
  • Berdasarkan etnis/ras
  • Berdasarkan penghasilan
  • Berdasarkan latar belakang pendidikan, dan lain sebagainya

Sehingga, ketika kita mulai membuat suatu produk atau jasa, biasanya profil calon pembelinya adalah seperti ini: seorang pria berusia 20-24 tahun dengan pendapatan 5 juta per bulan yang memiliki kebutuhan mobilitas yang tinggi.

Demografi Modern

Sekarang kita menuju ke pembagian demografi modern, di mana beberapa waktu lalu sempat saya ujicoba pada beberapa klien yang konsultasi ke saya untuk mengganti profil customer mereka dengan pembagian yang lebih kekinian, seperti,

  • Berdasarkan passion
  • Berdasarkan hobi
  • Berdasarkan minat
  • Berdasarkan bakat
  • Berdasaran interest
  • Berdasarkan keyakinan
  • Berdasarkan nilai-nilai (values)

Coba deh kamu terapkan sendiri untuk bisnismu, terlebih jika ingin membuat produk atau jasa yang baru. Kadangkala kita membuat bisnis kedai kopi yang sebenarnya sangat cocok untuk orang yang memiliki hobi nongkrong di kedai kopi dan menganggap bahwa itu keren. Namun karena terbiasa menggunakan demografi tradisional, perlakuannya menjadi berbeda karena kita hanya menganggap bahwa orang-orang yang punya hobi nongkrong di kedai kopi ini hanya sebagai pria berusia 24 tahun yang berpenghasilan 10 juta per bulan. Sangat terlihat bedanya jika nanti kamu coba sendiri di lapangan.

Jika kamu merasa bahwa tulisan di atas bermanfaat, maka jangan sungkan untuk mengungkap semua rahasia membuka bisnis sejak masih muda dalam buku terbaru saya, STUDENTPRENEUR GUIDEBOOKKlik di sini untuk memesan, atau kamu dapat membeli langsung di toko buku terdekat di kotamu.

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen kewirausahaan teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia yang saat ini sedang melakukan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki semangat dan passion dalam menulis, khususnya melalui media blog. Tulisan - tulisan di blognya ssat ini mayoritas membahas tentang kehidupan seputar akademik di perguruan tinggi, pengembangan diri, serta entrepreneurship.

Pada tahun 2013, buku Studentpreneur Guidebook yang ditulisnya menjadi national best seller dan rujukan pengajaran kewirausaahaan untuk pelajar serta mahasiswa di Indonesia. Sejak tahun 2013, Arry juga aktif membantu Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia untuk menyeleksi dan membina para entrepreneur terbaik dari sivitas akademik UI. Dalam 10 tahun terakhir, Arry juga dipercaya untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan jasa konsultasi bagi kementerian, BUMN, korporasi, serta yayasan yang ingin menumbuhkan kewirausahaan dalam organisasi (corporate entrepreneurship / intrapreneurship) atau melakukan inovasi bisnis untuk bisa terus bertumbuh di era disruptif seperti saat ini.

Untuk terus mengembangkan minat keilmuannya di bidang kewirausahaan, Arry belajar dari para pakar kewirausahaan Eropa melalui Delft Centre for Entrepreneurship di Technische Universiteit Delft, Belanda sejak tahun 2019.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!