Entrepreneurship & Business Venture Design

Studi Kasus Pemanfaatan The Empathy Map untuk Mengenal Profil Konsumen dalam Bisnis

Written by Arry Rahmawan

Pada kesempatan kali ini saya ingin melanjutkan pembahasan mengenai The Empathy Map Canvas, yang secara konsep sudah saya bahas di sini.

Pada dasarnya, the Empathy Map canvas sangat bermanfaat untuk mengenal profil target konsumen dalam bisnis. The Empathy Map ini juga dapat digunakan untuk mengetahui apa perubahan perilaku konsumen dari sebelum dan setelah terdampak pandemi.

Dengan mengetahui apa perubahan konsumen, maka kita sebagai pemimpin bisnis dapat mengarahkan inovasi apa yang dibutuhkan agar dapat tetap survive.

Pada artikel kali ini saya akan membahas tentang studi kasus pemanfaatan The Empathy Map untuk mengetahui perubahan perilaku konsumen.

Mengenal the Empathy Map Canvas

Walaupun sebelumnya saya sudah menjelaskan tentang konsep the Empathy Map di artikel ini, tidak ada salahnya saya menjelaskan kembali.

Empathy Map Canvas (EMC) adalah kanvas yang mirip dengan BMC, namun tujuannya lebih spesifik: untuk mengenal konsumen bisnis lebih detil.

Berikut ini adalah gambaran kanvas dari EMC,

Gambaran dari EMC

Secara umum, EMC memiliki 6 blok di mana lebih sedikit dari 9 blok yang dimiliki BMC. Saya tidak membahas apa maksud dari masing – masing blok, karena saya sudah menjelaskannya di artikel ini.

Saya ingin menjelaskan bagaimana aplikasi langsung di dengan skenario studi kasus di salah satu unit bisnis yang saya bina, yaitu AlkindiKids. AlkindiKids adalah sebuah UMKM yang berfokus menyediakan alat bantu permainan edukasi dan buku untuk anak usia dini. Namun, pada masa pandemi, AlkindiKids mengalami penurunan order terkait buku dan mainan anak – anak ini.

Lalu, the Empathy Map Canvas coba digunakan untuk membantu bagaimana mengenali perubahan perilaku konsumen.

Pertama, dibuatlah tim khusus riset pasar dan inovasi yang terdiri dari 2-4 orang.

Kedua, tim tersebut menentukan siapa saja profil konsumen ideal yang merupakan pelanggan setia AlkindiKids. Didapatkanlah 5-7 profil, lengkap dengan namanya serta latar belakangnya (seperti pendapatan, pendidikan, usia, jumlah anak, dsb). Dalam kasus ini, profil idealnya adalah: xxxx (nama disamarkan), ibu muda berusia 21 – 30 tahun, beragama Islam, memiliki 1 – 2 orang anak di usia dini (3-4 tahun), tingkat pendapatan keluarga 6 – 10 juta per bulan, tinggal di Jabodetabek, sangat concern terhadap pendidikan anak.

Ketiga, tim tersebut melakukan survey online secara langsung dan memetakan apa yang dialami dan dirasakan konsumen. Sesuai dengan kriteria profil pada langkah nomor dua. Lalu didapatkan informasi sebagai berikut di masa pandemi,

  • What does she see?
    Pandemi COVID-19 akan sangat lama; Ada risiko COVID-19 akan menular ke anak melalui sekolah TK.
  • What does she hear?
    Anak TK dan anak kecil dapat terpapar COVID-19. Tahun ini pendidikan TK tidak dilaksanakan tatap muka. Pelaksanaan pendidikan akan di rumah. Tidak ada diskon atau potongan biaya pada penyelenggaraan pendidikan.
  • What does she really think and feel?
    Memasukkan anak ke TK secara tatap muka dapat memperbesar risiko penularan COVID-19. Memasukkan anak ke TK tahun ini akan membuang uang karena sebagian besar online. Rasa tidak percaya bahwa pendidikan anak usia dini bisa dilakukan melalui online. Guru yang mendidik anaknya di rumah adalah orang tuanya sendiri.
  • What does she say and do?
    “Saya tidak ingin memasukkan anak saya ke TK saat ini mengingat risiko penularan COVID-19 yang masih sangat besar.”

    “Saya ingin memasukkan anak saya ke TK jika sudah kembali dibuka secara offline, mengingat value yang didapat tidak sebanding dengan harganya jika dimasukkan sekarang.”

    “Saya akan mendidik anak saya sendiri di rumah, untuk menjaga kesehatan anak saya sekaligus melakukan penghematan pengeluaran pendidikan.”
  • What is the customers’ pain?
    “Jika saya ingin mengajari anak saya, bagaimana caranya?”

    “Saya tidak punya pengalaman dalam mengajari anak kecil dengan baik.”

    “Saya tidak punya kurikulum atau panduan mengajarkan anak saya pendidikan anak usia dini di rumah.”

    “Saya tidak punya sarana dan prasarana yang dapat mendukung pembelajaran anak usia dini di rumah.
  • What does the customer gain?
    “Saya ingin anak saya berkembang secara kognitif (kecerdasan) dan perilaku.”

    “Saya ingin anak saya bisa membaca huruf abjad, huruf arab, dan mahir berhitung sederhana.”

    “Saya ingin anak saya memiliki adab yang baik dan menghormati orang tuanya”.

Berdasarkan informasi yang telah didapatkan tersebut, kelompok inovasi ini kemudian menggunakan EMC untuk menggambarkan apa yang dirasakan konsumen.

Hasil akhirnya adalah sebagai berikut,

Pengisian EMC dari AlkindiKids

Berdasarkan the Empathy Map di atas, AlkindiKids pun akhirnya dapat menyesuaikan produk dan jasanya pada saat pandemi.

Dari yang tadinya fokus dalam penjualan buku dan mainan, berdasarkan the Empathy Map di atas, akhirnya AlkindiKids fokus dalam mengembangkan produk AlkindiKids Online Preschool. Program ini berisikan pembinaan terhadap ibu – ibu muda untuk menjadi guru bagi anaknya di rumah, termasuk pembekalan skill dan sarana prasarana yang dibutuhkan dalam satu paket. Melalui layanan ini, AlkindiKids dalam seketika langsung kebanjiran order dan follower nya di instagram tumbuh dengan pesat.

Studi kasus ini semoga dapat bermanfaat untuk Anda yang sedang berupaya melakukan inovasi dan adaptasi untuk bisnis Anda di tengah pandemi. Adanya EMC ini bisa jadi sangat bermanfaat untuk mengenal seperti apa konsumen bisnis Anda. Dengan semakin Anda mengenal konsumen, maka akan semakin memperbesar peluang Anda menghasilkan produk yang diterima konsumen.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di artikel pembahasan inovasi bisnis berikutnya!

Salam,
Arry Rahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang saat ini sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki hobi menulis dan blog ini adalah tempatnya untuk berbagi terkait pengalamannya di baik di dunia akademik, entrepreneurship, dan juga pengembangan diri.

Arry berpengalaman dalam menjadi pembicara/konsultan di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait dengan tulisan - tulisannya di blog ini.

Untuk menghubungi saya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!

JOKER123
JUDI SLOT
POKER ONLINE
JUDI ONLINE
JOKER123
JOKER123
SLOT ONLINE
SLOT GACOR
JOKER123
JOKER123
SLOT
SLOT ONLINE
JOKER123
SLOT ONLINE
SLOT ONLINE
JOKER123
JUDI BOLA
JUDI SLOT
JOKER 123
SLOT
SITUS SLOT
JOKER123 APK
JOKER123
SLOT ONLINE