Problem Solving and Decision Making

The Reflection About Entrepreneurship

Apa sebenarnya entrepreneurship itu? Jika dicari di Google atau Wikipedia yang paling mudah, penjelasan entrepreneurship secara global akan ditemukan sebagai suatu aktivitas yang berinisiasi untuk membuat bisnis sendiri dengan (tentunya) disertai keuntungan dan risiko tertentu. Sehingga entrepreneurship adalah sebuah aktivitas yang sangat erat sekali kaitannya dengan bisnis sehingga nyaris tidak dapat dibedakan.

Saya sendiri memulai sebuah aktivitas entrepreneurship sesungguhnya sejak SMA, dan baru benar-benar real menciptakan sistem saat kuliah (salah satunya Training CerdasMulia). Dalam perjalannya selama lebih dari 5 tahun, banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan.

Orang boleh banyak berpendapat bahwa entrepreneurship adalah bisnis. Namun, inilah pandangan saya tentang entrepreneurship.

Entrepreneurship is About Impact

Buat saya, inti dari entrepreneurship adalah menciptakan impact kepada orang-orang di sekitarnya. Dengan kita terjun langsung menjadi seorang entrepreneur, di saat itulah maka resonansi kebaikan kita akan cepat menggetarkan orang lain untuk berbuat impact juga kepada orang lain.

Menurut saya, esensi dari entrepreneurship adalah seperti berikut ini,

Fase 1 adalah innovation, di mana entrepreneurship berfungsi untuk menciptakan sesuatu untuk memperbaiki atau menambah suatu nilai yang sudah ada.

Fase 2 adalah profitable, entrepreneurship juga harus bisa membangun arus keuntungan agar bisa membuat keberlanjutan dalam inovasi yang ada.

Fase 3 adalah impact, di mana entrepreneurship berbasis inovasi dan keuntungan yang ada bisa memberikan dampak bagi orang lain.

Gambaran jelasnya, jika misalkan saat ini kita menjadi pengusaha sepatu, dampak perubahan apa yang sudah kita berikan kepada orang lain? Jika kita belajar dari Toms Shoes, dengan gerakan one for one, atau sepasang sepatu untuk satu orang di mana membeli satu sepatu akan menggerakkan Toms Shoes untuk memberikan satu sepatu untuk kaum miskin yang tidak mampu membeli sepatu.

Its not about giving shoes, tapi gerakan satu orang satu ini menggerakkan banyak gerakan-gerakan baru lainnya dengan bisnis yang berbeda, mulai dari kacamata, makanan, dan lain sebagainya.

Hal ini coba saya adopsi di Training CerdasMulia. Sebagai sebuah bentuk gerakan entrepreneurship, CerdasMulia membuka sebuah pelatihan bernama Studentpreneur Training. Setiap satu sesi pelatihan kewirausahaan untuk pelajar ini yang terlaksana, saya beserta tim menuliskan satu artikel. Jadi, jika ada 60 pelatihan, maka kami menulis 60 tulisan. Istilahnya one training for one article. Tulisan-tulisan ini yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku. Buku ini merupakan gerakan sebuah lembaga training untuk memperkenalkan kewirausahaan dengan jalan yang lebih luas, yang bisa Anda dapatkan di toko buku terdekat di kota Anda. Buku itu bernama #StudentpreneurGuidebook. Karena kami percaya, setiap orang berhak untuk belajar kewirausahaan tanpa harus mendatangi pelatihan kami yang harganya jutaan rupiah. Buku ini pada akhirnya mampu membangkitkan semangat banyak orang yang awalnya tidak mampu dan tidak berdaya menjadi punya semangat untuk berwirausaha.

Ada lagi contoh lain yang diperlihatkan oleh mas @Saptuari, yang merupakan seorang saudagar kaos Jogist di Jogja beserta beberapa bisnis kulinernya. Dengan semakin banyaknya bisnis, beliau justru membuka gerakan Makelar Sedekah yang bekerja mencari orang-orang yang memerlukan bantuan untuk dibantu. Istilahnya, sedekah jika dilakukan beramai-ramai, oleh siapapun, maka hasilnya bisa sangat memberikan impact, apalagi jika dilakukan oleh seorang pengusaha yang konon uangnya lebih banyak dari kebanyakan orang.

Once again, bukan masalah bikin buku atau sedekahnya, namun gerakan-gerakan kecil ini ternyata menginspirasi gerakan-gerakan lain untuk melakukan hal yang sama dan semakin lama semakin besar.

Mengutip tweet saya barusan,

When I talked about business to #studentpreneur,  I said, don’t tell me what you invented or how much your revenue, tell me about who you changed.

Bagaimana menurut Anda?

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Leave a Comment