Uncategorized

Tidak Selamanya Multitasking itu Baik

Pernah mendengar kata multitasking kan? Yap, multitasking adalah di mana saat kita bisa mengerjakan banyak sekali hal secara sekaligus. Apakah kita termasuk generasi multitasking? Banyak orang menilai bahwa bisa mengerjakan berbagai macam hal sekaligus (multitasking) akan dapat banyak  menghemat waktu dan membuat pekerjaan selesai dengan lebih efisien. Tetapi apakah memang seperti itu? Sebenarnya dulu di awal tahun 2010 saya dididik untuk bisa menjadi seorang yang sangat multitasking. Serba bisa. Bahkan sampai saya harus berdebat dengan senior saya. Memang terbukti, ternyata tidak selamanya multitasking itu baik.

Beberapa hal memang menuntut kita agar bisa menjadi seorang yang multitasking. Sebagai contoh sebagai mahasiswa, kita dituntut tidak hanya belajar di kelas, tapi juga dari organisasi, usaha/bisnis, pengajian, dan lain sebagainya. Begitu pula ketika kita sedang berkomunikasi dengan orang lain, di mana banyak sekali hal-hal yang menuntut kita untuk meresponnya dengan cepat seperti email, Twitter, BBM, SMS, dan notifikasi facebook yang terus berbunyi di Blackberry kita.

Tetapi dari pengalaman saya dan beberapa pengalaman teman lainnya, mengindikasikan hal yang sama bahwa tidak selamanya multitasking itu baik, sebagai contohnya beberapa hal yang disebabkan oleh multitasking bisa jadi sebagai berikut:

  1. Merusak konsentrasi dan membuat pengerjaan tugas selesai lebih lama. Misalkan ketika ingin belajar atau membaca materi tertentu untuk dipelajari, cobalah sambil mengaktifkan internet, membuka Chrome, Twitter, Facebook, Blogwalking, yang justru akan membuat konsentrasi belajar kita pecah dan tugas tidak kunjung selesai.
  2. Menghilangkan rasa hormat kepada orang lain. Seperti misalkan saat kita sedang berbicara dan berkomunikasi dengan orang kemudian kita juga sambil SMS dan BBMan, menurut saya itu dapat membuat orang kehilangan respek
  3. Mudah lupa. Contohnya ketika kita harus mengerjakan banyak hal sekaligus. Ini belum selesai, kemudian meloncat ke pekerjaan lain. Ini belum selesai, loncat ke yang lainnya. Padahal, di salah satu pekerjaan itu kita baru saja menemukan gagasan-gagasan yang bagus. Sayangnya justru malah lupa karena kita juga sibuk mengurus hal-hal yang lainnya.
  4. Membuang-buang waktu dan membuat hidup tidak efisien. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mereka yang fokus menghasilkan keluaran yang lebih banyak daripada mereka yang multitasking di waktu yang sama. Dalam kata lain, lebih produktif. Mereka yang suka multitasking mungkin iya bisa mengerjakan lebih banyak tetapi secara keluaran belum tentu sama banyaknya.

Memang benar bahwa memilih menjadi singletasking maupun multitasking adalah tergantung siapa orangnya dan juga konteks pekerjaannya. Tetapi saya rasa mayoritas orang yang benar-benar bisa multitasking itu hanyalah mereka yang memang menerapkan Prinsip 3 AS dalam Pekerjaan mereka. Jika memang tidak benar-benar mendesak, saya rasa kita sebaiknya memfokuskan satu urusan dulu hingga selesai baru kemudian beralih ke pekerjaan lainnya. Lebih baik mengerjakan 3 pekerjaan namun semua selesai dengan baik daripada memiliki 10 pekerjaan yang semuanya tidak ada yang selesai. Kamu juga bisa membaca artikel untuk mengefisiensikan waktu dalam bekerja yang berjudul Menghabisi Monster Penunda Pekerjaan Sampain Titik darah Penghabisan.

Bagaimana menurut kamu?Apakah kamu generasi multitasking?

Ingin berkomunikasi lebih lanjut? Follow @ArryRahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen kewirausahaan teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia yang saat ini sedang melakukan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki semangat dan passion dalam menulis, khususnya melalui media blog. Tulisan - tulisan di blognya ssat ini mayoritas membahas tentang kehidupan seputar akademik di perguruan tinggi, pengembangan diri, serta entrepreneurship.

Pada tahun 2013, buku Studentpreneur Guidebook yang ditulisnya menjadi national best seller dan rujukan pengajaran kewirausaahaan untuk pelajar serta mahasiswa di Indonesia. Sejak tahun 2013, Arry juga aktif membantu Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia untuk menyeleksi dan membina para entrepreneur terbaik dari sivitas akademik UI. Dalam 10 tahun terakhir, Arry juga dipercaya untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan jasa konsultasi bagi kementerian, BUMN, korporasi, serta yayasan yang ingin menumbuhkan kewirausahaan dalam organisasi (corporate entrepreneurship / intrapreneurship) atau melakukan inovasi bisnis untuk bisa terus bertumbuh di era disruptif seperti saat ini.

Untuk terus mengembangkan minat keilmuannya di bidang kewirausahaan, Arry belajar dari para pakar kewirausahaan Eropa melalui Delft Centre for Entrepreneurship di Technische Universiteit Delft, Belanda sejak tahun 2019.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!