Uncategorized

Western and Typical Japanese Students

Sebenarnya ada sebuah kekhawatiran saat saya pergi untuk student exchange ke Jepang. Apalagi daerah yang saya kunjungi pada awalnya adalah Tokyo. Kenapa? Karena menurut teman-teman saya yang pernah student exchange di Jepang, sangat sulit sekali untuk bisa berkomunikasi dengan mereka. Jangankan untuk membuat pertemanan dan persahabatan, berkomunikasi pun sulit sekali.

Mindset tersebut ternyata masih terngiang-ngiang saat saya sampai ke Narita. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Japanese Students di Tokyo dan disambut dengan sangat ramah dan menyenangkan. Benar-benar berbeda dari yang digambarkan. Hmm… Apakah selama ini teman saya yang baru pulang dari Student Exchange di Jepang itu berbohong? Kita lihat faktanya sama-sama… Informasi ini mungkin berguna buat kamu yang ingin studi di Jepang dan bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa asli Jepang. Ini tentang western and typical Japanese Students

Perlu Keaktifan untuk Memulai Pergaulan

Sebagai orang Indonesia, senyum, tegur, sapa, atau salam sudah merupakan sebuah tradisi yang biasa. Tetapi jika di Jepang bersiap-siaplah kamu dicuekin mahasiswa Jepang jika memang tidak ada urusan dengan orang yang bersangkutan. Ini juga yang terjadi dengan saya dan teman lain di grup 1. Di grup 1 ada 3 mahasiswa Jepang yaitu Haruta Jumpei (Kyoto University) sebagai kepala suku (ketua maksudnya, hehe..), kemudian Kosuke Tachibana (Tokyo Tech Institute), dan Chisa Izuta (Kobe University).

Secara jujur, kesan pertama kepada ketiganya mereka semua adalah orang yang pemalu, pendiam, dan irit bicara. Sangat berbeda dengan typical orang Indonesia yang senang memulai percakapan dan ramah. Bahkan saat di Tokyo Disneyland pun kami semua saling berpencar (bahkan delegasi Indonesia sempat tersesat) yang akhirnya kami ditemukan dan dipandu oleh Kosuke.

Di Tokyo Disneyland yang merupakan kesempatan untuk team building langsung dimanfaatkan habis-habisan oleh saya dalam menjalin pertemanan. Saya berbicara banyak dengan Kosuke (yang paling pemalu di antara semua karena Englishnya kurang lancar), kemudian Jumpei (yang juga pemalu tetapi Englishnya lumayan), serta Izuta Chisa (yang paling English dan friendly dibanding yang lain).

Untuk memecah kebuntuan, akhirnya saya dan Thao dari Vietnam mencoba untuk bermain Truth Game pada keesokan harinya. Permainan ini sangat simpel, di mana kita memutar suatu benda kemudian bagi orang yang ditunjuk benda itu menjawab pertanyaan sejujur-jujurnya. Cara ini efektif dan akhirnya kami semua dinobatkan sebagai salah satu tim yang paling solid di antara 8 tim yang lain.

Intinya, tidak perlu sungkan untuk memulai pertemanan. Mahasiswa Jepang lebih suka disapa dan diajak bicara. :). Sampai titik ini teman saya benar.

Typical and Western Japanese

Kalau sahabat ikut student exchange kali ini, tidak perlu waktu lama untuk orientasi maka kita langsung bisa dekat dengan mahasiswa Jepang. Setelah truth game itu, Jumpei jadi lebih perhatian dan suka memulai diskusi, Kosuke jadi lebih banyak berbicara dan berekspresi, serta Chisa juga menjadi lebih ramah. Sampai suatu kali, Jumpei berkata kepada saya,

“What you see here isn’t typical Japanese Students. We are western Japanese Students.”

Ya, saya tersadar akan suatu hal penting setelah membaca CV dari mahasiswa Jepang itu. Rata-rata dari mereka sudah pernah pergi ke luar negeri. Beberapa di antaranya bahkan ke Eropa. Bahasa Inggris mereka lancar, fasih, dan jelas.

“Actually, almost western Japanese students have more open mind, can work as a team, and more friendly.”

Ini adalah sebuah fakta yang penting menurut saya. Karena ternyata dari cerita para mahasiswa Jepang western yang ikut acara ini mengatakan bahwa mahasiswa Jepang pada umumnya tidak bisa bahasa Inggris, individualistis, dan cenderung menyendiri. Sementara Japanese Western Student bisa dihitung masih sangat sedikit dari jumlah total mahasiswa Jepang pada umumnya.

Me and Jumpei Haruta

So, buat kamu yang ingin pergi dan menjalin relasi dengan mahasiswa Jepang sebaiknya tidak perlu kaget jika mendapatkan respon yang tidak diinginkan. Cukup mulai percakapan dan berbuat baik saja kepada semua orang. Saran saya cari yang western japanese students karena mereka umumnya memiliki pengalaman internasional dan mereka sangat menghargai makna dari sebuah persahabatan.

Saya sendiri masih ingat betapa Jumpei bilang saat perpisahan, “Please come back here.sambil memberikan sebuah souvenir dari Hokkaido University¬†dan Chisa yang langsung mengirim Facebook Message, “I miss you already“. Jujur ada rasa sedih saat berpisah dengan mereka, jika tidak ingat bahwa masih ada Facebook sebagai sarana komunikasi kami.

Me and Chisa Izuta

Sekian cerita dari saya untuk hari ini. Bagaimana dengan Anda? Ada cerita yang bisa dibagi? Silakan tuliskan di kotak komentar di bawah ya.. ūüôā

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah seorang pembelajar dan juga praktisi pendidikan. Arry merupakan dosen tetap di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Saat ini Arry sedang menjalankan tugas belajar dengan melanjutkan studi doktoral di Faculty of Technology, Policy, and Management, Technishce Universiteit Delft, Belanda.

Di sela-sela kesibukannya, Arry senang berbagi pemikiran seputar pendidikan dan pengembangan diri melalui blognya di arryrahmawan.net, Youtube Channel, dan juga sebagai trainer di CerdasMulia Institute.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!